Keindahan Islam dalam Kaligrafi

Mengaji dan Berkreasi di Kampus Seniman Muslim Lemka”. Slogan yang ditulis dengan kaligrafi Arab itu tergores pada tembok sebuah gang kecil di Kelurahan Karamat, Kecamatan Gunung Puyuh, Sukabumi, Jawa Barat.

Gang ini menjadi pintu masuk ke Pesantren Lemka (Lembaga Kaligrafi Al Quran). Suasananya bersahaja. Begitu memasuki area pesantren, terdapat beberapa bangunan terpisah. Ada asrama putra, asrama putri, kantor pesantren, dan pendopo yang digunakan sebagai ruang belajar.

Di pendopo, tampak beberapa santri sedang asyik menggoreskan kalam (semacam pena dari bambu) untuk membentuk aksara Arab di atas kertas karton. Ada kaligrafi bergaya tsuluth, dewani, kufi, atau naskhi. Tiap-tiap gaya memperlihatkan keindahan anatomi huruf yang lentur dan ekspresif.

”Saya ingin pesantren ini menjadi tempat bermukim seniman-seniman Muslim,” kata pendiri Pesantren Lemka Didin Sirojuddin saat ditemui di pesantren tersebut, Kamis (26/8) sore. Pesantren ini memang didirikan untuk mewadahi santri yang hendak mengasah keterampilan dan wawasan dalam kaligrafi Arab.

Sejak didirikan tahun 1998, pesantren telah membina sekitar 600 santri dari beberapa lokasi di Indonesia. Tahun 2010, sebanyak 115 santri dari 17 provinsi menetap selama setahun penuh untuk belajar kaligrafi.

Apa menariknya kaligrafi untuk dipelajari? Bagi Didin, kaligrafer dapat memperoleh manfaat batiniah dan lahiriah ketika menguasai keterampilan menulis halus Arab ini. Selain menyajikan keindahan tulisan dan kedalaman makna dari pesan teks, kaligrafi juga bisa dijadikan media komunikasi dengan Sang Khalik. Lewat tulisan halus ini, seorang Muslim dapat semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Kaligrafi juga menjadi salah satu perwujudan dari wajah indah Islam. Setiap kaligrafer dapat mengacu pada gaya-gaya kaligrafi klasik sekaligus mencoba bereksperimen dengan gaya baru. Karya kaligrafi yang baik bisa mengajak siapa pun, tak harus umat Muslim, untuk menikmati estetika permainan huruf.

Dimensi estetik ini memang kerap tertutupi oleh dimensi hukum (fiqh) dan ritual (ibadah) yang lebih menonjol. ”Islam tidak menebar kebencian, tetapi rasa cinta. Jika nilai itu telah tertancap di hati, semuanya akan terasa indah,” ucap Didin, yang juga dosen pada Universitas Islam Negeri Jakarta.

Kaligrafi juga menumbuhkan ketenangan bagi penulisnya. Dodi (20), salah satu santri asal Riau, mengaku sering lupa diri jika sedang menulis kaligrafi. Dalam sehari, dia bisa menghabiskan waktu lima jam untuk mengutak-atik huruf-huruf indah itu. ”Saat menulis, hati saya tenang dan damai,” ujarnya.

Menurut Didin, kaligrafi tidak hanya dapat digoreskan di atas karton, tetapi juga bisa diterapkan pada media lain, seperti kanvas dan tembok. Di pesantren seluas 6.400 meter persegi ini, tembok-tembok kelas dan asrama memang dipenuhi dengan mural-mural kaligrafi yang sejuk dipandang.

Proses pengajaran di pesantren ini juga menarik. Meski punya pendopo, proses belajar kadang dilakukan di tengah sawah, kebun teh, ataupun di tepi sungai. Dengan metode yang rekreatif dan interaktif itu, para santri diharapkan mampu mengeksplorasi makna dan estetika kaligrafi lebih luas lagi.

Tak heran, pesantren kaligrafi pertama di Indonesia ini telah melahirkan ratusan seniman kaligrafi atau khattat. Sekadar gambaran, pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) 2010 di Bengkulu, dari 190 peserta kaligrafi, 90 santri di antaranya merupakan jebolan Pesantren Lemka. Santri lulusan Lemka juga pernah menjadi juara 1 dalam lomba penulisan kaligrafi tingkat Asia Tenggara di Brunei.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s