Cerpen: Si Hitam dan Si Putih

Dahulu kala di tanah Jawa, ada sebuah sekolah di lereng gunung. Muridnya banyak sekali, semua datang dari pelosok Negeri. Sekolah itu dipimpin oleh seorang guru bernama Guru Bijakraya. Seperti namanya, sang guru terkenal bijaksana.

Suatu hari, utusan Kaisar Negeri China datang ke sekolah menyampaikan undangan pesta. Setelah sang utusan pulang, Guru Bijakraya mengumpulkan semua muridnya. Murid-murid ada yang berasal dari keluarga kaya, tetapi juga ada yang berasal dari keluarga miskin. Oleh Guru Bijakraya, semua murid diperlakukan sama.

”Anak-anakku…” Guru Bijakraya memandang murid-muridnya yang berkumpul menyimak kata-katanya. ”Kalian tentu sudah tahu tentang undangan Kaisar China, kan?”

”Ya Pak Guru.” Semua murid menjawab serempak. Mereka senang sekali kalau Guru Bijakraya diundang, mereka pasti boleh ikut datang.

”Sayangnya, aku tak bisa mengajak kalian semua,” kata Guru Bijakraya dengan wajah menyesal.

SEMUA SALING pandang dengan kecewa.

”Aku hanya diizinkan mengajak salah seorang di antara kalian,” kata Guru Bijakraya menenangkan. ”Yang menyulitkan, kalau aku menentukan pilihan, yang tidak terpilih pasti akan mengatakan kalau aku tidak adil.”

Guru Bijakraya tersenyum melihat wajah murid-muridnya menjadi ceria lagi.

”Untuk menentukan pilihan secara adil, aku akan memberi kalian tebakkan. Nah, tulis dan ingat ini baik-baik.

Si hitam dan si putih ini setiap hari lewat, dia ada di mana-mana di semua belahan bumi, dan ditunggu setiap makhluk hidup. Dia bisa dilihat dan dirasakan kedatangannya, tapi dia tak bisa ditangkap.

Siapa yang bisa menjawab pertanyaanku dengan tepat, dialah yang berhak mengikuti aku ke Negeri China.”

SEMUA MURID bertepuk tangan dengan gembira. Mereka lalu berpamitan pada Guru Bijakraya untuk mencari si hitam dan si putih di luar sekolah. Cuma seorang anak yang tak ikut pergi, dia bernama Dipo.

Dipo seorang anak yatim piatu. Dia dibesarkan oleh Nenek yang miskin. Sang Nenek menyerahkan Dipo ke pada Guru Bijakraya, karena sang Nenek tak bisa lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan Dipo yang selalu ingin tahu.

Dipo memang anak yang pandai dan mau bekerja keras. Dipo pun dibesarkan Guru Bijakraya di sekolahnya bersama murid-murid yang lain.

”Kenapa kau tidak ikut pergi mencari si hitam dan si putih seperti teman-temanmu?” Tanya Guru Bijakraya heran. ”Apakah kau tidak ingin menemani aku ke Negeri China?”

”Tentu saja saya ingin,” kata Dipo sambil tersenyum. ”Tetapi bukankah Guru tadi bilang, si hitam dan si putih itu ada di mana-mana, dan setiap hari lewat? Jadi, buat apa saya pergi jauh-jauh mencarinya?”

Guru Bijakraya terkekeh senang. ”Kau anak yang cerdas, Dipo. Apakah kau sudah bisa menebaknya?”

Dipo menggeleng sambil tersenyum.”Nanti, Guru. Saya sedang menunggu si hitam dan si putih itu lewat.”

Guru Bijakraya tersenyum. ”Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Si hitam dan si putih itu pasti akan lewat.”

KARENA SEKOLAH sepi ia menghabiskan waktu dengan membaca, membersihkan sekolah. Kalau bosan karena semua temannya pergi, Dipo berjalan-jalan di tepi hutan.

Suatu hari, ketika Dipo sedang menyapu halaman, seekor ular belang hitam-putih lewat di dekat kakinya.

”Aih!” jerit Dipo kaget, dengan ketakutan Dipo memanjat pohon, dilihatnya ular itu melata ke semak-semak menuju hutan di belakang sekolah.

Ah, itu pasti si hitam dan si putih, pikir Dipo senang. Akan kukatakan pada Guru Bijakraya kalau ular itulah jawabannya. Tetapi semakin dipikirkan, Dipo mulai ragu. Ular kan tidak setiap hari lewat?

KEESOKAN HARINYA, ketika Dipo sedang mencari kayu bakar di tepi hutan, Dipo melihat seekor burung berbulu hitam putih sedang bertengger di sebuah pohon sambil berkicau merdu.

Burung itu pasti si hitam dan si putih itu, pikir Dipo. Kicauannya indah sekali…. tetapi Dipo kembali ragu.

Dipo menjadi kecewa. Untuk melupakan kekecewaannya, Dipo kembali meneruskan mencari kayu.

KROSAK! Dipo menoleh dengan kaget, dilihatnya seekor zebra berbulu hitam- putih sedang memakan daun-daunan di dekatnya. Mata Dipo berbinar, ini pasti si hitam dan si putih itu, pikir Dipo.

Tetapi…, kembali Dipo ragu. Seperti juga ular dan burung, mereka tidak setiap hari lewat, dan mereka bisa ditangkap! Jadi… jawaban yang dicari bukan makhluk hidup, tetapi suatu benda. Tetapi benda itu apa, sebuah batu? Rasanya tak mungkin karena batu tak bisa lewat.

Hari demi hari pun berlalu, teman-teman Dipo banyak yang kembali ke sekolah dengan tangan hampa, tidak tahu jawabannya. Besok adalah hari terakhir, dan Dipo belum mengetahui jawabannya.

DIPO KECEWA dan lelah. Baiklah, pikir Dipo sedih. Mungkin sudah nasibku tak bisa ikut ke Negeri China.

Dipo duduk seorang diri di bawah pohon di halaman sekolah, berpikir dan terus berpikir sampai Dipo tidak sadar siang menjadi sore. Sore berubah gelap.

Suara ayam berkotek, burung berkicau dan suara suara hewan di siang hari berganti dengan suara jangkrik dan kodok dari tepi hutan.

Udara yang tadi hangat berubah dingin ketika hari berubah malam. Dipo membiarkan kegelapan malam melingkupinya sampai Dipo tertidur.

SUARA KOKOK ayam di pagi hari membangunkan Dipo dari tidurnya, Dipo melihat langit mulai terang, udara yang semalam dingin menjadi sejuk.

Dipo tersenyum gembira, nanti dia akan berkumpul lagi dengan semua teman- temannya. Dipo sudah tidak peduli lagi siapa yang akan menemani Guru Bijakraya ke Negeri China.

Dipo melihat matahari terbit, menyinari semua yang ada di sekitarnya dengan hangat, membuat semua hewan di hutan bersuara riang.

Mendadak Dipo menyadari sesuatu, ya… Dipo sudah menemukan jawabannya.

SIANG HARINYA, semua teman Dipo berkumpul di halaman.Tidak seorang pun bisa menjawab pertanyaan dengan tepat, kecuali Dipo.

”Si hitam adalah malam hari, sedangkan si putih adalah siang hari. Mereka lewat setiap hari dan mereka ada di mana-mana di belahan Bumi.

Kedatangan siang dan malam bisa dilihat siapa saja, ditunggu semua makhluk hidup dan dirasakan kedatangannya lewat perubahan udara. Mereka tak bisa ditangkap karena waktu terus berlalu.”

Semua teman-teman Dipo tercengang, lalu mereka bertepuk tangan sambil bersorak gembira.

Guru Bijakraya tersenyum, dengan bangga memandang Dipo. Diserahkannya panji-panji sekolah ke pada Dipo.

”Mari kita berlayar ke Negeri China, Dipo,” kata Guru Bijakraya.

Dipo dengan bangga mengangkat panji-panji sekolahnya dan berjalan mengiringi Guru Bijakraya menuju Negeri China.

Sophia Rodiah Penulis Cerita Anak, Tinggal di Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s