Kumpulan Puisi Fitir Yani dan Guri Ridola

Fitri Yani

Bisikan Bisma

demi sumpahku kepada cahaya

dari utara

telah kuciptakan kekosongan

di kedalaman mataku

kubuang segala pikat asmara

dari kekasih paling memabukkan sekalipun

maka pulangkanlah semua tabib

dan tinggalkan aku sendiri di Kurusetra

dalam hening akan kulepas diriku

dari segala prasangka

dalam dingin akan kubiarkan waktu

mengambang di cakrawala

semoga kelak kau paham

mengapa cinta selalu menuntut kata percaya.

Juli, 2010

Fitri Yani

Lukisan

saat kamu dan dia bersatu, benda-benda di sekitarmu

seketika akan berada dalam lukisan seorang perenung

yang senantiasa bersaksi dan menunggu

bersaksi atas luka di telapak kakimu

menunggu hilangnya segala jenis debu

yang singgah di tubuhmu

lukisannya adalah himpunan warna

yang terlihat bagaikan fajar di balik pegunungan

di dalamnya, ada satu titik yang akan selalu

membuatmu bertanya, itukah inti kemarau

ataukah pemilik cahaya yang kerap singgah di dadamu

perjalanan yang mengantarkanmu kepada dia

baginya seperti garis lurus yang tak pernah ia beri warna

apatah lagi nama

ketika semua warna dalam lukisannya menjadi abu-abu

pada saat itu pula ia akan mundur perlahan

membiarkan semua benda keluar dari lukisannya

dan kembali ke tempat semula

maka kekallah kamu dan dia yang berdekapan

di dalam lukisan itu.

2009-2010

Guri Ridola

Sembilan Puluh Sembilan Sembilu

Sembilan puluh sembilan sembilu di meja tamu

Dan segelas air jeruk dingin yang baru kau peras

Di kaca meja kulihat mata kita

Memisah dan berjalan meraba-raba

Pertemuan hanyalah es batu dalam gelas

Yang luruh tanpa kita sentuh

Sebelum utuh jadi air

Ia tumpah ke atas lidah

Aku mengeluarkan satu sembilu dari lambung

Ketika es batu belum sepenuhnya cair

Di dinding almanak ditiup angin sore

Di lembar belakangnya potret kucing

sedang menjilati bulu-bulunya yang basah

Batusangkar, 2010

Guri Ridola

Batang Air

Ia hanya mengalir

Tidak mengenal pasang surut

Tanpa aur tebing memerah

Serupa wajah lelaki pemancing

yang menggenggam joran kayu

Kincir air tak kenal lagi lumut

Ia telah berkarib rayap dan semut

Kijang air berenang lambat

Dekat mujair yang melarat

Batu-batu kecil menjadi rumah-rumah batu di seberang

Tempat seorang puan resah menunggu lelakinya pulang

Walau di batang waktu ia mulai bertubuh sungai

Mulai lelah membasahi reranting hingga dedaunan

Untuk buahnya yang akan jadi karib ikan dalam rumah batu

Ia tetap batang air, batang air

Yang mengalir dan tak mengenal pasang surut

Batusangkar, 2010

Guri Ridola

Megalomania

: Marhalim Zaini

Seorang pemancing yang berjalan ke hulu

Setelah membaca isyarat pasang di muara

Melempar pancing bermata tiga

Satu mata menancap di bajunya

Sambil menanti, ia terus bergumam

“Semakin besar umpan, semakin besar ikannya”

Jaring batu dalam ingatannya membatu

Akan dibenamkannya ke kepala nelayan menjelang malam

Agar esok pagi para istri bersuka-ria menyambut suaminya

Dalam kepalanya ikan-ikan duyung berenang lelah

Ia juga menyimpan sebuah kursi dalam kepalanya

Goyangan kursi itu serupa bandul jam

yang memikat hati tubuh-tubuh yang resah

Pada tubuh-tubuh itu ia berkata

“Masuklah ke dalam kepalaku, lelahmu akan luruh”

Fitri Yani, lahir 28 Februari 1986, adalah alumnus FKIP Universitas Lampung. Buku puisinya yang akan segera terbit berjudul Dermaga Tak Bernama. Ia tinggal di Bandar Lampung.

Guri Ridola, lahir di Batusangkar, Sumatera Barat, 1 Juli 1988. Ia mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro, Semarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s