Anak Anak Pengungsi Mulai Lagi Ke Sekolah

Anak-anak pengungsi mulai sekolah lagi dengan menebeng di sekolah-sekolah terdekat dari pengungsian, Rabu (15/9). Mereka sekolah dengan peralatan seadanya tanpa harus memakai seragam atau sepatu. Mereka mengenyam pendidikan pada siang dan sore hari.

”Yang penting proses belajar-mengajarnya berjalan lagi. Kami menyadari masih banyak kekurangan di sana-sini,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karo Seruan Sembiring saat dihubungi Kompas dari Medan.

Dia menjelaskan, para anak pengungsi itu sekolah pada siang hingga sore hari ketika gedung sekolah tidak digunakan lagi oleh siswa asli sekolah terkait. Mereka diajar oleh guru mereka sendiri sebagaimana saat sekolah di desa masing-masing. Ketika anak- anak itu mengungsi, guru mereka juga mengungsi sehingga tidak sulit mencari guru saat mereka sekolah lagi di dekat pengungsian.

Meski demikian, Seruan telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan menyiapkan tenaga pengajar tambahan jika sewaktu-waktu kekurangan guru. ”Di hari pertama ini sih, gurunya masih cukup,” papar Seruan.

Koordinator tempat pengungsian Jambur Taras, Berastagi, Naksir Purba, menjelaskan, dia sangat terbantu dengan dibukanya sekolah bagi anak-anak pengungsi. Alasannya, saat siang hingga sore hari kondisi tempat pengungsian menjadi agak lengang sehingga dia bisa lebih mudah mengatur para pengungsi.

”Saat masih banyak anak- anak, kadang kami susah mengaturnya lantaran mereka tak henti-henti bermain. Kadang lari-lari pula,” paparnya.

Hal senada disampaikan Koordinator Lapangan Pengungsian Jambur Adil Makmur, Kabanjahe, Ruslan Barus. ”Saat ini saya lebih mudah menata makan siang pengungsi saat anak-anak sekolah,” paparnya.

Naksir dan Ruslan mengimbau para orangtua di pengungsian untuk mendorong anaknya masuk sekolah lagi. Di hari pertama sekolah, beberapa anak tidak ikut kelas dengan alasan malu lantaran tidak mempunyai seragam atau sepatu. Padahal, sekolah kali ini tidak harus pakai seragam maupun sepatu.

Sampai saat ini belum ada data pasti dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Karo mengenai jumlah anak-anak sekolah yang mengungsi. Namun, diperkirakan jumlahnya mencapai 20 persen dari seluruh pengungsi yang mencapai 25.998 pengungsi (jumlah pengungsi per 15 September).

Selama ini, anak-anak tersebut hanya mendapat bimbingan membaca atau diberi cerita oleh relawan sebagai pengganti proses belajar-mengajar.

”Hal itu bagus, tetapi anak- anak itu tetap membutuhkan proses belajar-mengajar yang lebih terstruktur,” kata Dokter Budi Anna Keliat, relawan dari Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia, di Kabupaten Karo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s