Cerpen: Kisah Hamster Lucu Menggemaskan

”Mereka imut dan lucu- lucu. Tampaknya mereka kerasan tinggal di sebuah kandang mungil di dekat kamar mandi. Setiap hari aku memberinya makan wortel segar. ” Tulis Sisil dalam suratnya.

Pak Pos datang mengantar sepucuk surat untuk Sisil. Sudah hampir tiga bulan Sisil punya sahabat pena, namanya Nura. Nura anak Padang, yang punya Paman di Surabaya. Setelah membaca surat Nura, Sisil jadi sedih.

”Biasanya kamu senang dapat surat dari sahabatmu, kenapa kali ini murung?” tanya Mama.

Sisil diam, tak berani cerita masalah yang sebenarnya. Ia hanya mengatakan pusing dan ingin berbaring sebentar di kamar.

Di dalam kamar Sisil duduk termenung, bingung. Minggu depan Nura berlibur ke tempat pamannya di Surabaya. Nura mau mampir ke rumah Sisil.

Sisil sebenarnya sangat ingin bertemu dengan sahabat penanya itu. Selama ini ia hanya tahu wajah Nura lewat foto. Masalahnya, Sisil sudah telanjur bohong sama Nura. Sisil bercerita kepada sahabat penanya itu, ia punya sepasang hamster berwarna belang.

”Mereka imut dan lucu-lucu. Tampaknya mereka kerasan tinggal di sebuah kandang mungil di dekat kamar mandi. Setiap hari aku memberinya makan wortel segar.” Tulis Sisil dalam suratnya.

DALAM surat-suratnya Nura sering bertanya mengenai hamster Sisil. Tentu saja Sisil membuat cerita dalam surat balasannya.

Sekarang Sisil kena batunya. Nura mengatakan kalau ia ingin melihat hamster Sisil. Sisil berpikir tak lama lagi sahabat penanya itu akan membencinya.

Sebenarnya Sisil punya tabungan cukup untuk membeli sepasang hamster. Namun, Sisil enggak berani pergi ke pasar hewan sendiri. Mau minta Mama untuk mengantar, Mama pasti akan tanya macam-macam. Memangnya Sisil bisa merawatnya dan sebagainya.

Sisil ingin meminta bantuan Mama untuk memecahkan masalahnya, tetapi Sisil takut Mama marah karena ia berbohong.

SAMPAI malam hari Sisil tetap sedih. Makan malam yang dihidangkan Mama sama sekali tak disentuhnya. Mama jadi bingung.

”Pusingnya belum sembuh Sisil?” tanya Mama. ”Apa perlu Mama antar ke dokter?”

”Enggak usah Ma, Sisil mau minum obat saja,” jawab Sisil bangkit dan pura-pura mencari obat sakit kepala.

Malam itu, Sisil tidak bisa tidur nyenyak. Ia bisa tenang setelah memutuskan untuk menceritakan hal yang sebenarnya kepada Mama.

ESOK PAGINYA, dikumpulkan seluruh keberanian untuk cerita kepada Mama. ”Ma, kalau Sisil cerita sesuatu, apa Mama akan marah?” tanyanya hati-hati.

”Kenapa harus marah, memangnya Sisil mau cerita apa?” balas Mama.

”Ma, liburan sekolah ini Nura mau berlibur ke Surabaya, ke rumah pamannya. Katanya ia ingin mampir ke rumah kita.”

”O, sahabat penamu itu?” jawab Mama. ”Bagus dong, seharusnya kamu senang,” lanjut Mama.

”Bukannya Sisil enggak senang Ma, masalahnya….” Sisil diam sesaat, sementara Mama masih terus memandanginya. ”Masalahnya Sisil sudah telanjur bohong sama Nura.”

”Maksud Sisil?” tanya Mama.

Dengan hati-hati Sisil menceritakan kebohongannya kepada Nura.

”Tunggu dulu,” sela Papa. ”Kok, Sisil bisa mengarang cerita soal hamster, memang Sisil pernah melihat hamster?”

SISIL MENJAWAB sambil menunduk. ”Waktu kita ke Selekta, Malang, liburan yang lalu Sisil melihat pedagang hamster di pinggir jalan. Sebenarnya Sisil ingin dibelikan sepasang, tetapi Papa mengemudinya terlalu kencang. Papa mau mengantar Sisil beli sepasang hamster? Sisil enggak ingin mengecewakan Nura,” pinta Sisil memberanikan diri.

”Tentu saja Papa mau, tetapi dengan satu syarat.” Papa mengacungkan telunjuknya. ”Sisil enggak boleh bohong lagi,” lanjut Papa.

Sisil tersenyum gembira. ”Terima kasih Pa, Sisil janji enggak akan bohong lagi. Sisil menyesal, ternyata bohong membuat hati kita enggak tenang.”

”Nah, sekarang habiskan sarapanmu. Papa berangkat kerja, hari Minggu nanti Papa antar Sisil ke pasar hewan. Sisil boleh pilih hamster yang Sisil suka.”

SISIL tak sabar menunggu datangnya hari Minggu. Sepasang hamster belang ada dalam angan-angannya. Ia tidak khawatir lagi Nura akan tahu selama ini ia membohonginya. Tentu saja mereka akan tetap bersahabat.

Akhirnya, hari Minggu yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Pagi-pagi sekali Sisil sudah siap pergi ke pasar hewan. Perjalanan ke pasar hewan tidak begitu dinikmatinya. Pikirannya sibuk membayangkan sepasang hamster.

Sesampainya di pasar, Sisil bingung, ternyata pasarnya ramai sekali. Lebih ramai daripada di sekolah. Untung Papa enggak pernah melepaskan pegangan tangan Sisil. Setelah melewati beberapa pedagang burung dan pedagang kambing, mereka pun sampai di depan pedagang hamster.

”Sayang sekali, yang berwarna belang baru saja dibeli orang, tinggal warna putih,” kata sang pedagang sambil menunjukkan beberapa ekor hamster berwarna putih.

Hamster-hamster itu lucu sekali. Mulutnya merah muda dan matanya yang jernih memandang Sisil. Sisil mengusap bulunya yang putih, terasa lembut di tangan Sisil. Sisil langsung menggendongnya.

TIBA-TIBA Sisil ingat ceritanya kepada Nura. Bukankah hamster yang diceritakannya berwarna belang? Sisil ragu sejenak, tetapi ia sudah berjanji enggak akan bohong lagi. Maka, dipilihnya hamster yang ia suka dan membawanya pulang.

Sesampai di rumah, Sisil terkejut. Seorang laki-laki dan anak perempuan duduk di ruang tamu. ”Sisil, ini Nura sahabatmu,” kata Mama. Setelah berusaha menutupi kekagetannya, Sisil langsung menjabat tangan Nura.

”Hai Nura, ternyata kamu cantik sekali, lebih cantik daripada yang di foto.”

”Terima kasih Sisil, kamu juga cantik. Hai apa itu? Oh, itu hamster yang kamu ceritakan Sisil?” tanya Nura sambil melongokkan kepala ke keranjang hamster di pelukan Sisil.

”Oh, sudah ditukar sama yang berwarna putih ya?” tanya Nura lagi. Tangan Nura sibuk membelai bulu-bulu hamster di gendongan Sisil.

Sisil diam sesaat. Lalu dengan hati-hati ia berkata. ”Maafkan aku Nura, sebenarnya selama ini aku bohong sama kamu. Aku enggak pernah punya hamster. Hamster ini baru kubeli dari pasar. Jangan marah, ya!”

JAWABAN NURA sungguh di luar dugaan Sisil. ”Tentu saja aku enggak marah. Aku justru senang, demi kedatanganku kamu rela bersusah payah membeli hamster ini. Lihatlah mereka lucu sekali! Yuk, kita ajak mereka bermain!”

Mereka lalu memberi makan hamster-hamster itu. Dari pelajaran Sains di sekolah, Sisil tahu bahwa hamster termasuk hewan omnivora, makanan biji-bijian seperti padi dan jagung, sayuran seperti wortel dan mentimun.

Tak henti-hentinya tangan mereka membelai bulu-bulu hamster itu. Warnanya putih bersih, seputih persahabatan mereka.

Siti Musyarofah Penulis Cerita Anak, Tinggal di Ponorogo

One response to “Cerpen: Kisah Hamster Lucu Menggemaskan

  1. seharusnya hamster itu gak boleh di kasih mentimun loooo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s