Minat Bersekolah Anak Di Pesisir Pantai Rendah

Minat anak-anak di daerah pesisir dan pelosok untuk duduk di bangku sekolah masih rendah. Selain faktor ekonomi, kendala utamanya adalah cara pandang masyarakat yang menilai sekolah tidak menguntungkan.

Demikian antara lain yang disampaikan para penggiat pendidikan dan pejabat Dinas Pendidikan Sumatera Utara kepada Kompas, Rabu (29/9). ”Banyak orangtua yang lebih senang kalau anaknya bekerja. Anak-anak juga malas sekolah kalau sudah bisa bekerja,” Kata Sri Rejeki, guru pada Yayasan Pendidikan Eka Huda di Desa Tamdam Hilir, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang.

Hal senada disampaikan Erond L Damanik, pengelola sekolah gratis di Desa Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, banyak anak usia sekolah di kampung nelayan yang malas bersekolah. Anak-anak itu memilih bermain dan bekerja pada jam-jam sekolah. Alasannya, dengan bekerja, mereka bisa memperoleh uang daripada bersekolah.

Selain itu, kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anaknya juga rendah. Mereka lebih sering mengajak anaknya pergi melaut daripada menyuruhnya bersekolah.

Kondisi ini banyak ditemui di pesisir timur Sumut, mulai dari daerah Langkat, Belawan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Asahan, hingga Labuhan Batu. ”Meskipun sudah ada sekolah biaya murah, kemauan orangtua dan anak-anak di sini kurang bagus,” kata Erond.

Di Desa Paya Pasir, dari sekitar 300 anak usia sekolah, hanya 40 persen yang bersekolah. Sisanya putus sekolah atau bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Adapun di Desa Tandam Hilir, Hamparan Perak Deli Serdang, sulit sekali mengajak anak-anak untuk sekolah.

Di Yayasan Pendidikan Eka Huda hanya ada tiga siswa SD dan 27 siswa SMP. Ratusan anak-anak usia sekolah banyak yang menjadi penggembala atau kuli bangunan.

Direktur Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Sumatera Utara Ahmad Sofian mengakui, berdasarkan survei singkat yang pernah dilakukannya di pesisir timur Sumut, 60-70 persen anak-anak lulusan sekolah dasar (SD) tidak melanjutkan ke sekolah menengah pertama (SMP). Bahkan, hanya 10 persen dari anak-anak yang melanjutkan SMP itu yang mau dan didorong orangtuanya bersekolah ke jenjang sekolah menengah atas dan kejuruan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s