Proses Mengetahui Karya Ilmiah Yang Mencontek Karya Orang

Berbagai cara, baik teknis maupun nonteknis, dilakukan pihak universitas untuk menahan praktik-praktik yang mencederai moralitas akademis. Persyaratan yang diajukan pemerintah juga semakin ketat; meski tetap harus waspada karena selalu ada celah kemungkinan untuk dilanggar.

Sejak beberapa tahun terakhir, Institut Pertanian Bogor, misalnya, mensyaratkan mahasiswanya membuat pernyataan tertulis di dalam skripsi/tesis/disertasi bahwa karyanya adalah karya asli dan dibuat sendiri. Pernyataan tersebut untuk membentengi dari peniruan karya ilmiah dan atau dibuat bukan oleh mahasiswa.

”Itu benteng pertama,” ujar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor Prof Dr Ir Yonny Koesmaryono di kantornya, Sabtu (25/9). ”Kalau itu dilanggar juga akan menjadi tanggung jawab mahasiswa dan ada sanksi akademis.”

Universitas Indonesia juga menerapkan hal yang sama. Menurut Direktur Bidang Pendidikan Universitas Indonesia Multamia Lauder, UI mengharuskan mahasiswa menandatangani pernyataan tentang keaslian karya tulis yang dihasilkan dan ditempatkan pada halaman kedua setelah judul.

Hal yang sama berlaku di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. ”Di halaman pertama skripsi maupun tesis, harus ada sertifikat orisinalitas yang ditandatangani mahasiswa bersangkutan, menyatakan karya asli dan dibuat sendiri,” kata Rektor Koes Margono, ”Kalau di kemudian hari ditemukan ternyata ada plagiarisme, gelar itu akan dicabut.”

Kiat lain yang dilakukan IPB adalah memberlakukan hak cipta untuk setiap skripsi/tesis/disertasi sehingga setiap mahasiswa akan bertanggung jawab terhadap karya ilmiah masing-masing. Peraturan Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional yang mengharuskan setiap skripsi, tesis, dan disertasi dimuat di portal Kemdiknas juga dimaksudkan untuk mencegah plagiarisme dan pembuatan tesis/disertasi oleh orang lain. Dengan dimuat di portal Kemdiknas, diharapkan masyarakat luas ikut mengawasi.

Kian ketat

Untuk mengantisipasi terjadinya plagiarisme, UI telah membuat beberapa aturan. Di antaranya SK Rektor Nomor 208 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Plagiarisme yang dilakukan masyarakat akademis Universitas Indonesia. Di situ tercantum beberapa ketentuan tentang prosedur mendeteksi kecurangan beserta sanksi yang dijatuhkan bila terbukti melakukan kecurangan.

Menurut Multamia, UI juga merumuskan Pedoman Penulisan Tugas Akhir serta mengharuskan setiap dosen yang melakukan pembimbingan membuat catatan setiap kali pertemuan dengan mahasiswa bimbingannya dalam buku bimbingan dalam bentuk log book, baik secara manual maupun elektronik melalui aplikasi Sistem Informasi Akademik (SIAK). Dengan demikian, ketua program studi dan ketua departemen dapat memonitor kegiatan pembimbingan.

Tim peneliti dari Fakultas Ilmu Komputer UI telah mengembangkan perangkat lunak yang dapat mendeteksi kemiripan dalam karya tulis. Saat ini perangkat lunak tersebut sedang diuji coba dengan menggunakan basis data semua karya tulis masyarakat akademis UI yang terhimpun di Perpustakaan Pusat UI.

Dalam aturan terbaru tahun 2010, khusus untuk disertasi doktor, sebelum diizinkan sidang promosi, calon harus menyerahkan satu karya tulis dari penelitiannya yang dinyatakan layak muat dalam jurnal internasional oleh kelompok pakar sebidang.

Bagi mereka yang mengambil jalur riset, persyaratan sidang promosi lebih berat, yakni harus menyerahkan karya tulis yang akan diterbitkan jurnal internasional yang dibuktikan dengan pernyataan dari editor jurnal bersangkutan bahwa karya tulisnya sudah masuk jadwal penerbitan. Daftar jurnal internasional ditentukan fakultas berdasarkan hasil penelaahan kelompok pakar sebidang.

Pihak pemerintah mengantisipasinya dengan persyaratan akreditasi yang kian ketat. ”Terus terang, kami melihat adanya upaya dari dosen-dosen tertentu yang dengan berbagai pertimbangan, entah empati, entah keuangan, mengompromikan kualitas akademiknya, dan ini makin lama makin longgar,” ujar Wakil Menteri Pendidikan Kementerian Pendidikan Nasional Fasli Jalal.

”Kami sudah melahirkan UU Guru dan Dosen Tahun 2005. Kami tingkatkan akuntabilitas dosen. Dosen tak boleh lagi di bawah S-2. Kalau dia mengampu S-2 dia harus S-3. Kalau dia mengampu S-3, dia harus profesor,” ujar Fasli.

Kiat teknis

Meski demikian, disadari, magister dan doktor karbitan tak akan banyak membantu. Oleh karena itu, pihaknya memperketat akreditasi program-program studi. ”Mulai tahun 2012-2013, setiap program studi yang tidak terakreditasi, baik S-1, S-2, maupun S-3, tidak boleh lagi mengeluarkan ijazah,” kata Fasli, seraya memaparkan upaya pihaknya membina perguruan tinggi yang belum siap.

Menurut Multamia, pada dasarnya mahasiswa harus mengerjakan sendiri semua tahap penelitian, mulai dari perumusan masalah, penyusunan proposal, pembuatan rancangan penelitian, penyusunan instrumen penelitian, pengumpulan data, pengolahan data sampai penarikan kesimpulan.

Namun, ada beberapa kegiatan yang boleh mendapat bantuan, seperti menyebarkan kuesioner dan memasukkan data. Bila tugas akhir selesai, mahasiswa diperbolehkan mendapat bantuan memperbaiki bahasa karena harus memenuhi bahasa Indonesia ragam baku dan bahasa Inggris ragam baku untuk kelas internasional.

Bagaimanapun, proses pembimbingan berperan penting untuk melacak orisinalitas karya. Menurut Yonny Koesmaryono, dalam membuat disertasi S-3 harus dipegang teguh syarat invention atau temuan baru, sekecil apa pun, dan orisinalitas.

”Peran rapat komisi pembimbing penting sekali. IPB mensyaratkan setidaknya terjadi tiga kali rapat pleno antara komisi pembimbing dan mahasiswa calon doktor. Kecermatan pembimbing menyelia mahasiswanya sangat berperan mencegah praktik yang tak diharapkan,” papar Yonny.

Pertanyaan mendetail berawal dari ”temuan baru apa dalam penelitian Anda?” pada ujian tertutup S-3 akan membantu pembimbing mengetahui kesiapan mahasiswa. Untuk S-1 dan S-2 masih boleh ada replikasi metodologi atau tempat penelitian, tetapi tidak untuk S-3. ”Pembimbing harus punya kiat-kiat kreatif untuk mencegah plagiarisme atau pembuatan skripsi, tesis, atau disertasi oleh orang lain,” ujar Yonny.

Cara menengarai karya itu dibuat sendiri oleh mahasiswa atau tidak, dilakukan Aloysius Agus Nugroho dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, antara lain, dengan menanyakan konsep serta preposisi karya tulis.

”Proses bimbingan dilakukan per bab setelah seminar proposal. Satu dosen membimbing tiga mahasiswa S-2, paling banyak lima. Dosen pembimbing punya cara khas untuk mengetahui karya itu dibuat siapa,” tutur Koesmaryono.

Menurut Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UGM Retno Sunarminingsih Sudibyo, rektorat mewajibkan ada tim pengawas skripsi, tesis, ataupun disertasi di setiap fakultas untuk menimbang bobot dan keaslian karya. Pertanyaannya, apa semua upaya ini cukup?

One response to “Proses Mengetahui Karya Ilmiah Yang Mencontek Karya Orang

  1. thank’s info nya ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s