Universitas Bukan Lagi Tempat Berpikir Tetapi Tempat Dimana Gelar Berkuasa Penuh

Seluruh upaya menahan praktik yang mencederai moral dan etika akademis tak akan pernah cukup apabila pendidikan tidak diletakkan dalam kerangka bergerak masyarakat dalam membangun bangsa dan negara. Dibutuhkan perombakan total cara berpikir tentang pendidikan agar gagasan pendidikan mewujud sebagai pengetahuan identitas kenegaraan dan kebangsaan.

Pendidikan semata- mata sarana menyebarkan pengetahuan yang akan memajukan masyarakat,” kata Risa Permanadeli, ilmuwan bidang representasi sosial. ”Jadi, pendidikan lebih kaya dari sekadar hubungan guru, murid, dan pelajaran, apalagi sekadar mengejar gelar.”

Dosen Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Aloysius Agus Nugroho, mengatakan, praktik pemesanan dan pembuatan karya tulis ilmiah telah menodai tradisi panjang proses pendidikan yang sarat nilai disiplin, kerja keras, dan kejujuran. ”Praktik itu sarat kebohongan dan tidak adil pada banyak pihak,” ujar Agus.

Gejala itu, menurut dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Sudarminta, menunjukkan penghalalan segala cara untuk uang dan kehormatan, bentuk modernisasi feodalisme.

Dataran bersama

Terlepas dari itu semua, ada persoalan mendasar mengenai pendidikan yang tak pernah disentuh. Menurut Risa, pendidikan seharusnya menjadi dataran bersama yang menempatkan seluruh anggota masyarakat mewujudkan cita-cita bersama, general volunté, meminjam istilah Ernest Renan, filsuf Perancis abad ke-19. Pendidikan menciptakan pengetahuan bersama yang menjadi dasar seluruh tindakan bernegara sehingga kesatuan bangsa dapat diwujudkan berdasar prinsip kesetaraan untuk mencapai kemajuan bersama.

”Sebab itu, pendidikan seharusnya menduduki ruang utama dalam kerangka menyusun bangsa dan negara,” tutur Direktur Yayasan Pusat Kajian Representasi Sosial itu.

Sejarah pendidikan di Indonesia tidak berangkat dari sejarah yang sama dengan Barat, khususnya Eropa, jelas Risa. Sejarah mengenai gagasan pendidikan ”per se” maupun gagasan pendidikan sebagai dasar pengetahuan berbangsa dan bernegara yang berakar dari situasi konkret masyarakat yang jauh dari kenyataan linier, disederhanakan polanya sejak Politik Etis pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Prinsip kesetaraan yang menjadi cita-cita ideal pendidikan menguap. Pada masa kolonial, pendidikan formal menjadi alat membentuk elite lokal. Sejarah yang memihak itu membuat pendidikan tak bisa dihindari menjadi simbol status sosial yang terpilahkan karena tetap ditujukan kepada kelompok masyarakat tertentu, yaitu priayi.

”Hal ini menjelaskan dalam banyak hal mengapa ingatan bersama yang tumbuh di masyarakat tentang hak akan pendidikan tetap jauh dari konteks politik untuk membangun dan mempertahankan ruang kesetaraan dan kebersamaan,” ungkap Risa.

Sementara pengajar Filsafat di Universitas Indonesia, Rocky Gerung, melihat perilaku feodal yang masih melekat di masyarakat ikut melahirkan perilaku koruptif praktik jual-beli skripsi, tesis, dan disertasi. Orang menyembah pada gelar, bukan pada ilmu.

”Di situlah pendidikan berubah menjadi habitus kekuasaan karena ’gelar’ menjadi lebih berkuasa ketimbang ’pikiran’. Universitas berubah menjadi ’kerajaan’ (professordom) ketimbang community of reason. Orang tidak berargumentasi karena kekuatan pikiran, tetapi karena kekuasaan gelar,” papar Rocky.

Implikasi tak dijalaninya prinsip kesetaraan pendidikan, menurut Risa, mewujud pada rendahnya anggaran pendidikan nasional, perubahan yang terus terjadi pada sistem dan materi pengajaran, serta perubahan sistem pendidikan yang ditentukan kepentingan sesaat, termasuk jabatan di Kementerian Pendidikan yang rentan kepentingan kelompok, golongan, dan lain-lain.

Lembaga pendidikan justru menjadi kerja mesin yang selalu bisa diukur secara kuantitatif—masukan, hasil, termasuk target jumlah lulusan per tahun, evaluasi untung-rugi, efisiensi, dan sebagainya, perubahan status lembaga pendidikan tinggi negeri menjadi badan hukum milik negara, atau maraknya lembaga pendidikan swasta yang keluar dari filosofi pendidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s