Buku Baru: Menguak Peradaban dari Pantai Utara

Situs Batujaya selama ini dikenal sebagai kompleks percandian batu bata paling besar. Keberadaannya menguak sekaligus menyisakan berbagai pertanyaan peradaban di wilayah ini.

Situs yang terletak di wilayah Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, sekitar 50 kilometer utara kota Karawang, Jawa Barat, ini berada di tengah hamparan sawah. Situs yang memiliki sekitar 30 candi dan bangunan keagamaan yang tersebar di atas areal seluas lima kilometer persegi ini pertama kali diketahui Tim Survey Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia (UI) yang dipimpin Profesor Ayatrohaedi pada 1984. Sejak itu, penelitian terhadap 30 candi dan bangunan keagamaan yang terdapat di situs tersebut terus berlangsung hampir setiap tahun.

Buku ini membahas keberadaan situs tersebut dan dirangkai dari disertasi penulisnya yang dipertahankan pada Program Pascasarjana Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada 2007. Buku ini bukan hanya mengungkapkan secara detail keberadaan kompleks percandian situs Batujaya, tetapi sekaligus telah meruntuhkan pandangan selama ini bahwa bangunan candi yang terbuat dari bata tidak selalu berasal dari masa yang lebih muda dibandingkan dengan candi yang terbuat dari batu. Kenyataan ini sekaligus membuktikan bahwa bata telah menjadi bahan bangunan penting sejak masa awal Hindu-Buddha di Indonesia dan teknologi pembuatannya sudah dikuasai oleh komunitas sekitar Batujaya.

Namun, buku setebal 188 halaman yang dilengkapi dengan tidak kurang dari 115 foto, 47 gambar, dan sembilan peta (termasuk lampirannya) itu masih menyisakan pertanyaan jika dihubungkan dengan keberadaan Kerajaan Tarumanegara sebagai kerajaan tertua di Jawa Barat.

Berdasarkan pertanggalan relatif dari temuan-temuan arkeologi dan pertanggalan absolut melalui analisis C14, kompleks percandian situs Batujaya dibangun dalam dua tahap pada masa Kerajaan Tarumanegara. Pembangunan fase pertama pada abad ke-6 dan ke-7. Pembangunan fase kedua berlangsung pada abad ke-8 dan ke-10. Ini berarti kompleks percandian di daerah ini bukan hanya memperlihatkan dibangun dalam kurun yang cukup panjang. Kompleks percandian situs Batujaya sekaligus merupakan kompleks percandian agama Buddha tertua di Pulau Jawa.

Penguasaan teknologi

Berbeda dengan candi-candi yang dibangun di daerah pedalaman, bangunan candi dan bangunan keagamaan situs Batujaya dibangun dengan menggunakan bata dalam berbagai ukuran dan kualitas. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas yang tinggal di sekitar Batujaya sudah memiliki kemampuan teknologi yang cukup maju dengan menggunakan sumber-sumber setempat. Tanah liat dengan campuran sekam atau kulit padi dan pasir tidak sulit diperoleh dari daerah sekitar. Situs Batujaya berada pada aliran Sungai Citarum hilir.

Kemampuannya menguasai teknologi bangunan ditunjukkan dengan penggunaan stuko yang dijumpai secara luas pada beberapa candi, baik pada dinding maupun lantai. Namun, kapur (gamping) yang menjadi bahan baku stuko tidak terdapat di sekitar situs. Daerah Batujaya merupakan dataran aluvial dan satuan dataran rendah endapan pematang pantai yang menjadi bagian dari zona fisiografi Dataran Rendah Jakarta.

Satu-satunya tempat paling dekat untuk memperoleh bahan baku stuko dalam jumlah besar hanya dari daerah Pangkalan, sekitar 20 kilometer arah selatan kota Karawang sekarang, atau sekitar 70 kilometer dari situs Batujaya. Perbukitan kapur di daerah ini melintas arah barat-timur lebih kurang 20 kilometer. Sisi ujung timur berada di tepi Sungai Citarum. Dari tempat ini, batu kapur diangkut dengan perahu melayari Sungai Citarum.

Dua lapisan budaya

Yang tidak kalah menariknya, stratigrafi arkeologi kompleks percandian Batujaya memiliki lapisan budaya yang lebih tua. Di bawah endapan lumpur sedimentasi Citarum yang melapisi kawasan itu, masih terdapat temuan-temuan lainnya yang menunjukkan adanya rangkaian budaya yang berlangsung pada masa akhir prasejarah, antara lain temuan lepas berupa fragmen tembikar, fragmen keramik, manik-manik kaca, alat batu, kerangka manusia, dan fragmen tulang binatang. Jumlahnya sangat banyak.

Pada kedalaman 2,5 meter dari ketinggian tanah sekitar, ditemukan beberapa kerangka manusia yang masih utuh dengan bekal kuburnya. Kerangka tersebut dikuburkan dengan memakai gelang emas pada pergelangan tangan kanannya sambil memegang pisau besi. Di antara kedua lutut dan bagian punggungnya terdapat senjata dari besi. Di bagian kaki dan di atas kepalanya terdapat wadah tembikar dengan motif hiasan khas Buni. Kenyataan ini menjadi pertanyaan menarik bagaimana mungkin keberadaan dan hubungannya dengan bangunan candi di atasnya.

Buni merupakan nama desa di Kecamatan Babelan, Bekasi utara. Temuan-temuan artefak di desa ini memiliki ciri budaya prasejarah dari masa perundagian, seperti beragam gerabah, manik-manik batu dan kaca, bandul jaring, serta tulang belulang manusia. Daerah sebaran temuannya bukan hanya terdapat di daerah Bekasi dan Rengasdengklok, tetapi juga meliputi Clincing (Tanjung Priok), Kelapa Dua, dan Tangerang.

Temuan kerangka komunitas Buni di situs Batujaya dianggap menarik karena merupakan yang pertama kali ditemukan dalam keadaan utuh dan lengkap dengan perhiasan dan bekal kuburnya. Temuan itu sekaligus menyingkap awal peradaban komunitasnya. Pecahan-pecahan tembikar di situs tersebut, setelah direkonstruksi, ternyata merupakan peralatan rumah tangga, seperti kuali, periuk, wajan, piring, pendil, guci, dan jambangan.

Tembikar-tembikar tersebut terdiri dari tembikar lokal dan nonlokal. Tembikar lokal bentuknya lebih sederhana. Akan halnya tembikar nonlokal warnanya hitam dan bagian dalamnya berwarna kemerahan. Tembikar tersebut memiliki hiasan dengan teknis cungkil atau gores. Jika berbentuk piring, dasar bagian dalamnya memiliki hiasan lingkaran konsentris yang dikenal oleh para ahli tembikar dengan istilah rolated wear. Tembikar semacam itu berasal dari Arikamedu, sebuah pelabuhan laut di India selatan.

Temuan tembikar Arikamedu memperlihatkan bahwa sejak akhir masa prasejarah atau masa awal sejarah, komunitas di pantai utara Jawa Barat sudah memiliki hubungan dengan bangsa lain dengan tingkat keterampilan dan kebudayaan yang tinggi. Tingkat kebudayaan ini diperkirakan terus berlangsung pada periode selanjutnya sebagaimana terdapat pada bangunan-bangunan candi.

Namun, melihat cukup luasnya kompleks percandian situs Batujaya yang dibangun dalam kurun cukup panjang, saat itu tidak mustahil di daerah Batujaya sudah ada komunitas yang terorganisasi dengan baik. Sayangnya tidak diketahui asal komunitas tersebut dan siapa penguasa yang menjadi pemimpinnya.

Pertanyaan ini masih tetap menyisakan perhatian untuk para peneliti, mengingat pekerjaan membangun kompleks percandian tersebut sangat boleh jadi melibatkan ratusan atau bahkan ribuan orang. Mereka dikerahkan untuk membuat bata dan kemudian menyusunnya menjadi candi dan bangunan keagamaan.

Her Suganda, Wartawan, Tinggal di Bandung

• Judul: Kompleks Percandian Batujaya–Rekonstruksi Sejarah Kebudayaan Daerah Pantai Utara Jawa Barat
• Penulis: Hasan Djafar
• Penerbit: Kiblat Buku Utama, Ecole Francaise d’Extreme- Orient, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, Nasional, dan KITLV–Jakarta
• Cetakan: I, 2010
• Tebal: 188 hal
• ISBN: 978-979-8001-08-6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s