Esai: Diksi

Kata-kata dalam sebuah puisi kadang kala, atau malah sering kali, tampak membedakan diri dari wicara sehari-hari. Puisi datang dan menghadirkan pemandangan yang tak biasa atas dunia, lewat kombinasi kata (dengan segenap citra dan bunyi yang disarannya) yang membangkitkan suatu momen yang intens dan unik dalam bahasa.

Mungkin kata-kata itu membawa kita mendaki tinggi dan memandang hamparan yang jauh dan melenyap di kaki langit. Atau tiba-tiba kita seperti berdiri di dasar jurang yang teduh dan curam, menyaksikan lebat belukar dan barisan panjang semut rangrang. Mungkin pula kita serasa terdampar di antah berantah, atau di sebuah dunia yang kelam dan genting dirundung petaka. Atau mungkin kita sekadar dituntun ke sebuah sudut di rumah sendiri yang sudah karib dan biasa dan sekonyong-konyong melihat seraut wajah samar pada bercak-bercak yang sudah kering di dinding.

Paduan tak terduga dari serangkaian kata. Itulah barangkali permulaan seluruh tenaga dan keajaiban puisi. ”Bulan limau retak” (Rendra), ”bulan di atas kuburan” (Sitor Situmorang), ”bulan telah mengerosong” (Goenawan Mohamad), atau ”baju bulan” (Joko Pinurbo) merupakan contoh bagaimana sepatah kata yang nyaris aus (karena terlampau sering nongol dalam puisi) ditawar kembali dan diselamatkan dari kejatuhan menjadi klise. Dari beberapa patah kata, lalu larik demi larik, atau bahkan hanya dalam selarik, tergelarlah sebentang tamasya yang lengkap maupun hanya sebagian tersingkap—”sebuah sajak yang menjadi adalah sebuah dunia” (Chairil Anwar).

”Dunia” yang terbangun dalam puisi adalah sebuah proses yang tak jarang berlangsung dalam paradoks: sejumlah hal-ihwal tampil dari sisi-sisi yang tak lazim sehingga tampak ganjil dan asing tetapi sekaligus intim (sebab menampakkan yang tak biasa terlihat). Dengan segenap kiasan, saranan, pemadatan, juga lompatan maupun ”tipuan gerak” atau ironi, puisi mencoba membangkitkan kembali pelbagai memori dan pertautan yang tersembunyi dan terserak di alam bawah-sadar bahasa. Inilah dunia yang ”menjadi” tak hanya ketika sebuah puisi digubah tetapi juga (atau lebih-lebih) ketika ia dibaca dan dibaca kembali.

Sudah barang tentu kata-kata dari wicara keseharian adalah bagian yang sah, bahkan penting, dalam puisi. Bukankah kekuatan ungkapan sering berasal dari paduan antara kewajaran bahasa sehari-hari dan kesegaran metafor yang tak disangka-sangka? Namun, bila perulangan berlangsung terlalu kerap, maka sebuah kiasan yang semula segar memang akan mulai layu dan akhirnya mati. Bahkan kata-kata yang terbangkit lagi setelah lama hanya bersemayam dalam kamus pun, jika akhirnya beredar kembali dalam dunia sehari-hari, lambat laun bisa terancam menjadi klise. Lewat perangkaian majas yang jitu dalam puisilah, antara lain, kejatuhan itu mungkin dicegah. Meski tanpa jaminan sampai kapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s