Cerpen: Dan Tuhanpun Mulai Mendongeng

Tuhan menciptakan manusia sebab Dia senang mendongeng

Mendongeng adalah bentuk paling awal dari tradisi oral. Kebanyakan dimulai dari kisah yang dipresentasikan dengan kombinasi gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Mendongeng menjadi bagian penting di sebuah masyarakat, bentuk hiburan rakyat yang bisa digabungkan dengan puisi, musik, dan tari-tarian. Dalam perkembangannya, cerita-cerita zaman kuno tersebut diukir, dilukis, disimpan—diharapkan dapat abadi—di batu, tulang, gading, bambu, daun, dan lain-lain. Di zaman sekarang, mendongeng disimpan dalam bentuk kertas dan digital.

Manusia terlahir untuk menyenangi dongeng, terlebih-lebih anak-anak. ”Ceritakan padaku satu kisah” adalah permintaan yang sering diucap oleh siapa saja. Mendongeng adalah bagian yang tak terpisahkan dengan diri manusia sejak masih kecil sampai menjadi besar. Dongeng dapat dengan mudah menerjemahkan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, seperti moral, budaya, dan tingkah laku.

Di tengah kesibukan kaum urban yang semakin tinggi, kehadiran televisi dan benda-benda elektronik lainnya seperti game, handphone, dan iPod dapat menggeser kegiatan mendongeng orangtua kepada anak. Padahal, kemampuan benda-benda tersebut tidak akan berhasil menggantikan kehebatan mendongeng sebagai bagian dari komunikasi antarmanusia yang hangat dan mesra. Ini menjadi hal yang memprihatinkan. Bayangkan bagaimana televisi dapat membuat anak-anak terpaku pada televisi sehingga makan ditelan secepat-cepatnya. Atau meja makan menjadi senyap sebab setiap anak menikmati permainan di game-nya.

Kegiatan ”nun jauh di sana…” sepantasnya dijadikan pengikat kuat relasi antar-anggota keluarga untuk melawan hantaman teknologi yang bersifat individual. Anak-anak yang sakit dan harus tinggal di ranjang dapat dihibur dengan didongengkan, bukan diberikan iPod dan dinyalakan televisi. Keluarga berkumpul di meja makan untuk saling bercerita, bukan di depan televisi.

Mendongeng di Festival Bercerita

Festival Bercerita yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) tanggal 11-14 November menjadi oase kesegaran di antara ratusan keping iklan di mal, koran, dan billboard tentang penjualan barang-barang elektronik yang mempromosikan hiburan bagi manusia-manusia yang kesepian. Festival ini sudah yang kesembilan kalinya diadakan, digagas dan dirintis oleh Dr Murti Bunanta, sosok teguh di balik Kelompok Pencinta Bacaan Anak.

Festival Bercerita IX berlangsung selama lima hari. Program acara diisi penuh dengan agenda mendongeng. Menyaksikan cerita demi cerita yang dipersembahkan oleh anak-anak dan orang dewasa, penonton terpikat. Perhelatan langsung ditujukan pada pokok dan praktiknya, yakni mendongeng, sehingga para peserta bisa merasakan manfaat bagaimana mendongeng dapat menyatukan banyak hati. Lihatlah bagaimana dongeng dapat disampaikan dengan berbagai cara; ada anak usia dua belas tahun yang mendongeng sambil menari dan menyanyi, ada sekelompok anak yang mendongeng dengan berteater, ada Pak Raden yang mendongeng sambil menggambar.

Kelompok Pencinta Bacaan Anak, sebagai salah satu sponsor dan pendukung utama Festival Bercerita, adalah organisasi nirlaba independen, didirikan pada tahun 1987. Sekarang kiprahnya bukan saja sudah menembus dunia internasional, tetapi juga tetap menjadi pemerhati buku cerita anak-anak serta bekerja untuk menyebarkan kerinduan akan dongeng di semua kota terpencil di Indonesia.

Teknik mendongeng

Pada usia berapa kanak-kanak dapat mulai didongengkan? Begitulah pertanyaan yang sering diajukan oleh para orangtua. Jawabannya adalah, ”Sesegera mungkin! Semakin cepat semakin baik.” Bahkan, orangtua sudah dapat mulai membacakan cerita kepada bayi berusia enam bulan. Tentu saja cerita yang dipilih tidak usah terlalu panjang dan penuh dengan kata yang sulit.

Memilih dongeng adalah faktor terpenting bagi orangtua dan pendidik. Memilih dongeng yang tepat bergantung pada usia anak secara umum. Penting bagi orangtua untuk mencari cerita yang dapat dimengerti anaknya serta sesuai dengan tingkat emosi dan spektrum pengalaman si anak yang bersangkutan.

Mendongeng dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantuan atau tidak perlu sama sekali. Karena kegiatan bercerita adalah komunikasi dua arah, kontak mata menjadi jembatan penting bagi si pencerita dan yang mendengarkan cerita. Melatih vokalisasi adalah hal prinsipiil agar suara terdengar jernih dan berjiwa. Tetapi, yang terpenting dari semuanya, seorang pendongeng haruslah memiliki rasa percaya diri ketika membawakan kisah. Sebab menjadi pendongeng adalah momen keajaiban—bahkan ketika seorang pendongeng baru saja memulai kalimatnya dengan ”Once upon a time…”.

Mungkin Tuhan juga seperti itu ketika Dia menciptakan manusia.

Clara Ng Novelis dan Penulis Cerita Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s