Kumpulan Puisi Bulan November

Badruddin Emce

: Dewi Nawang Wulan

Seluruh yang engkau tulis, tengadah.

Seluruh yang tengadah, rekah.

Seluruh yang rekah, menggugah.

Perkenankan kami menjadi lebah!

Bagaimana terbang lepas

seperti makhluk paling bebas.

Berputar-putar seperti kerumunan gila belajar.

Lalu meluncur

seperti hanya akan ambil manis sarinya

menolak sepah kosongnya.

Sebelum sentuh membangkitkan,

tak perlu kiranya dituliskan.

Menyusuri jalan yang ditentukan angin

kami akan datang melupakan

rimbun pohon-pohon jauh tinggi!

Sepanjang engkau bebas dari napsu,

dengan seluruh urat daya,

pertahankan itu tengadah rekah.

Sentuhan demi sentuhan!

Nanti, yang berlagak

tak kehilangan miliknya direbut,

setelah kembali dalam sarang

bakal menemukan tubuhnya masih utuh kering.

Begitulah, setelah engkau pergi,

desa yang dulu memuja-muja kembang impianmu

Menjaga matamu dari tatapan berawan puncak Slamet,

terpaksa menyembunyikan kangennya

dalam relung-relung debur air terjun musim hujan.

Tepatnya, lelaki itu tak tega mengatakan

yang mesti dikatakan,

meski engkau tenang dalam dekapannya.

Tak leluasa melakukan yang mesti dilakukan,

meski engkau terseok di depannya.

Jika ia putra seorang pejuang.

Atau setidaknya pernah membuaimu dengan kisah

yang melingkari monumen-monumen di kotanya,

sepanjang musim ia hanya mendengung ingin.

Berputar-putar tak hinggap-hinggap.

Adakah lalu engkau rebut itu kuncup dirimu?

Kelopak-kelopak itu tak nuntut tahu,

yang terjadi barusan sebenarnya apa.

Tetapi tetap membuka,

menjaring dengung panjang

yang telah membangkitbesarkan para pejuang.

Di musim engkau kehilangan gairah,

patung-patung itu telah berdiri

dengan bambu runcing di kaki depan dan kaki belakang.

Di mata dan mulut. Di punggung dan perut.

Di sayap dan udara.

Di kata-kata dan bukan kata-kata.

Kroya, 2010

Badruddin Emce

: Ganjar Wisnu Murti

Laut mencoba menirunya!

Pagi itu, dengan ombak terjulur lunglai.

Tumpukan busa leleh.

Dengan gulung sedikit pincang

seperti habis dibrengkolang,

mengikuti ke mana engkau membawa kail.

Mengayuh sepeda di jalan pasir.

Lalu dari balik tanaman kacang

atau rimbun pisang,

mengawasi pikiranmu

tengah mencabuti akar bukit Selok

puluhan tahun mencengkeram muara Adireja.

Setelah lingsir, dengan debur yang sama,

menyusur ke barat

lubang-lubang pasir besi terus digali,

dikuras hingga tak berarti.

Terkadang di suatu Minggu sore

simpuh di teras rumah bapakmu,

seperti menunggu seseorang

yang balik dari Semarang,

kota istri dan anak-anakmu

selalu ingin menikmati rob bersamamu.

Tetapi di bawah langit selatan,

laut tak bisa sesempurna anjing itu.

Anjing yang keturunannya

dimasukkan karung dengan moncong terikat.

Lalu jika malam menuntut kegembiraan lebih,

di belakang sebuah warung

kepalanya dipukul dengan sekali pukulan.

Bukankah jika magrib terdengar,

laut segera menyisih ke tengah

yang sulit digapai,

dan hanya sedetik buih tertinggal di pantai?

Kemudian agar bisa paham,

engkau mencipta waktu.

Mengajak teman-teman berendam

di bawah purnama.

Di air yang katamu,

tiap butirnya menampung beribu peristiwa.

Lalu di sebutir yang tersisa di sebuah gelas

tergambar

betapa laut mulai mencumbu pasangannya.

Beberapa bulan kemudian

menjilati bulu anak-anaknya

yang mungil.

Mengajari berburu tikus sawah

atau kucing yang tersesat semak semangka.

Sayang sekali,

jika magrib kembali berkumandang,

laut segera menyisih.

Menjauhi dunia kata yang gemagus.

Lalu seperti para pencari anjing

kita tak jadi membaca

bagaimana laut meringkuk dalam karung

setelah berjam-jam kehausan dan tertipu.

Kroya, 2008

S Yoga

barongsai

cahaya keperakan, merah, kuning

hijau giok adalah pernak-pernik kesunyian

terbang ke atas, ke puncak cahaya

meledakkan malam yang buta

malam lampion yang bercahaya

karnaval perayaan musim tanam

malam menjulang bertabur bintang

kembang api menyembur

di kegelapan malam yang memanjang

mercon meledak di udara

tambur dimainkan, gemerencing genta

dan keras genderang yang menggema

di persimpangan jalan kau ragu

arah mana yang dituju

menari-nari di malam gemerlap

warna-warni merah api

bergantungan di udara

di sisimu seekor naga raksasa

meliukkan ekor hitamnya

dengan sisik kuning emas

penuh kenangan

dan derita yang memanjang

dari sejarah gelap yang terlupa

berlengak-lengok dalam tarian liong

dengan tubuh telanjang

ekor masa lalumu yang melumut

melingkar-lingkar di dasar angan

meliuk dan menyemburkan api

membelit tubuhmu yang mulai bersisik

Ngawi, 2010

S Yoga

obor-obor menyala berarak ke kampung

hutan, pantai, sawah, lembah dan gunung

ember, panci, sendok, piring seng

wajan, cutil, kompor, garpu, dandang

diseret berdencing dan dipukul bertalu-talu

bising dan memercikkan api masa lalu

blek blek ting tong, blek blek ting tong

berirama tak genah hingga memusingkan

membangunkan para penguasa malam

yang sembunyi di pohon-pohon waktu

bertahta di kursi megah kegelapan

yang telah mencuri malam-malamku

kelak kusumpah tujuh turunan

akan kupanggil raja kegelapan dari istana

untuk menghukummu dan membakarmu

dengan sembilan puluh sembilan cahaya

semua kegelapan telah kuterangi

dari sudut sempit, lebar, tinggi

rendah, pendek dan yang maha luas

dengan nyala obor dan doa-doa

namun tak kujumpai kau

yang menyita seluruh hidupku

Purworejo, 2010

Badruddin Emce lahir di Kroya, Cilacap, 5 Juli 1962. Di samping aktif di Tjlatjapan Poetry Forum, ia juga anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah.

S Yoga lahir di Purworejo, Jawa Tengah. Buku puisinya berjudul Patung Matahari (2006). Kini ia tinggal dan bekerja di Ngawi, Jawa Timur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s