Buku Baru: Api Paderi: Pertentangan Kaum Paderi dengan Kaum Adat Menegakkan Islam secara Kaffah

Dua kutub, di mana pun itu, selalu ada dan saling beradu. Kutub agama dan budaya menjadi contoh kutub-kutub yang kadang sulit bertemu. Karena itu, membaca, mempelajari, dan mempertemukan kedua kutub ini kadang menjadi sia-sia jika tidak dikaji dari sudut yang tepat.

Pertentangan semacam ini pun terjadi. Pro-kontra Kongres Kebudayaan Minangkabau adalah dua kutub yang saling beradu. Kutub yang sulit bertemu yang coba dijalin dalam suatu karya sastra oleh seorang penulis muda asal Ranah Minang. Penulis novel ini berani menulis setelah tunak di Yogyakarta sana. Novel ini bahkan lahir setelah ia berada jauh dari obyek yang dituliskannya.

Karya ini mengambil setting tempo dulu Nagari Paninjauan di pinggang gunung, yang sekaligus menjadi bagian penting dari narasi yang terbangun. Lalu dengan ”memanfaatkan” perdebatan dua kutub antara kaum padri dan kaum adat, penulis novel ini menghadirkan kisah-kisah lama dengan baik.

Konflik panas

Perseteruan kaum padri dengan kaum adat sudah menjadi cerita baik dalam khazanah pemikiran Islam modern dan sejarah prakemerdekaan. Bahkan, dalam sejarah Islam secara umum. Cerita heroik ini berawal dari pembaruan di Ranah Minang seiring dengan masuknya gerakan Wahabisme. Cerita heroik Harimau Nan Salapan dalam gerakan pemurnian Islam merupakan sebuah episode sejarah yang melekat dan terkait dengan titik prakemerdekaan. Ada semangat perlawanan untuk lebih maju dan memerdekakan diri dari kungkungan kemapanan. Di sinilah, jika merenunginya, seakan-akan mustahil. Tuanku Nan Renceh dari Kamang Bukittinggi begitu tega membunuh ”eteknya” sendiri, karena tidak mau berhenti dari mengunyah sirih. Begitulah kerasnya ”perang” terhadap Takhayul Bid’ah dan Churafat di Ranah Minang hingga menjadi sebuah gerakan yang menimbulkan konflik panas.

Serpihan sejarah kaum padri dengan balutan romantika, konflik, adat, budaya, dan agama paling tidak mengingatkan bahwa hidup memang selalu berpagut pada cara pandang terhadap kehidupan. Keyakinan dan kenyataan selalu terkait.

Tokoh Datuk Sati dengan para parewanya menerangkan bahwa sudah menjadi budaya, sejak saisuak, hal-hal apa pun akan dimurnikan oleh gerakan orang asing. Walaupun begitu, ia sangat moderat terhadap hal baru. Lain lagi dengan Datuak Tan Kuniang, yang tak bisa diasak pendapatnya. Diasak layu, dianjak mati! Sementara, Tenku Hudzail dari sisi lain, yang membawa ”sesuatu” dari rantau, agaknya harus mendapat masalah. Begitulah awalnya lalu ada romantika adik si Midin, Puti Jalito, yang membuat lini cerita berkelindan dengan dinaungi narasi Nagari Paninjauan yang indah.

Dalam novel ini, ada masalah teknis pada beberapa bagian bangunan kalimat dan istilah. Paling tidak, sedikit mengganggu dan mesti direkomendasi kepada penulis dan penerbit untuk kembali mengoreksi. Walau akan menjadi alasan, remah-remah sejarah ini sudah telanjur masuk wilayah fiksi. Hal ini kadang tetap menjadi ganjil dan mustahil di pikiran pembaca di ranah sendiri. Dan itu, sangatlah mungkin bagi pembaca untuk komplain jika melihat kenyataan yang ada dibandingkan dengan yang diceritakan dalam novel. Atau paling gawat, jika fiksi ini hanya satu-satunya sumber bacaan di masa depan nantinya tentang pertikaian kaum tua dan kaum muda. Maka, alamat novel ini menjadi tambo! Apalagi bagi Ranah Minang, tempat di mana setting itu berada dan segala sesuatunya sangat banyak yang tahu tentang apa yang diceritakan tersebut.

Badiak dan cenayang (clairvoyance) adalah dua kata yang paling mungkin ”dicurigai” menyaru secara sah dalam novel ini. Alasannya, ini bahasa dari ranah yang lain. Bagi penulis tentulah punya alasan tersendiri, tetapi ”kecurigaan” akan kuat terasa ketika masuk lebih jauh. Di mana, ada komparasi ala penulis dalam cerita ke ranah Jawa. Misalnya, persis Tapa Brata Nyi Camara di Pantai Selatan (hal 16). Komparasi ini terjadi beberapa kali, seakan-akan penulis ingin menjelaskan lebih jauh tentang duduk persoalan. Sementara, persoalan baru pun muncul di benak pembaca. Bagaimana jika pembaca tidak kenal dengan amsal yang jadi bahan komparasi itu? Ini bisa berbahaya. Inilah jika menulis cerita dengan setting sejarah.

Persepsi baru

Secara menyeluruh, novel ini harus diapresiasi tinggi di ranah sendiri. Sebuah novel baru dengan penulis yang mengaku baru pula perlu dibaca oleh siapa saja. Kenapa demikian? Karena penulisnya telah mencerita hal-hal lama dengan posisi dan persepsi yang baru dan segar. Memperkenalkan dua kutub pemikiran yang pernah ada dan mungkin masih ”bertempur” di kepala orang-orang di sini. ”Di negeri orang-orang pintar,” menurut Makmur Hendrik.

Novel Api Paderi diyakini menjadi sebuah novel yang kuat karena narasi-narasi yang hidup dengan pendekatan kata-kata sastra. Lebih-lebih jika menceritakan suasana Paninjauan yang indah. Dua gunung, malam purnama penuh. Sawah. Angin sepoi-sepoi dan seterusnya. Memancing pengambilan gambar untuk dijadikan film. Dan ini, paling tidak, merekomendasikan para sineas untuk mengangkat novel ini ke skenario film.

Terakhir, dua kutub itu selalu ada sebagai kenyataan dalam kehidupan. Ia laksana dua rel yang diperlukan walau tak bisa dipertemukan. Dan memang tidak perlu dipertemukan demi keseimbangan. Selalu, ”pertentangan dan perimbangan” memang ranum (hal 11) jika diusik oleh kepentingan yang menyaru ke dalamnya. Kepentingan tersebut berupa kekuasaan; ekonomi, daerah, juga kadang perempuan! Begitulah, novel ini hadir menjadi bukan sekadar sebuah cerita lepas. Ia memiliki sesuatu yang amat penting diceritakan untuk diambil sebagai pelajaran, iktibar!

Abdullah Khusairi Dosen Pemikiran Islam Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang

• Judul: Api Paderi: Pertentangan Kaum Paderi dengan Kaum Adat Menegakkan Islam secara Kaffah

• Penulis: Muhammad Sholihin

• Penerbit: Narasi

• Cetak: Februari 2010

• Tebal: 215 halaman

• ISBN: 978-979-168-228-2

One response to “Buku Baru: Api Paderi: Pertentangan Kaum Paderi dengan Kaum Adat Menegakkan Islam secara Kaffah

  1. yup,saya masih setengah jalan membacanya.bagus secara konsep cerita tapi memang perlu perbaikan dalam hal teknis sedikit,apapu tak ada sesuatu yang langsung jadi pasti ada proses,tapi di bidang pemahaman saya acungkan dua jempol..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s