Kumpulan Puisi Inggit Putria Marga

memasuki pintu, menaiki tangga, tiba di ruangan tertinggi sebuah gedung: ruangan berdinding coklat pala, beberapa lukisan hewan tergantung di dinding-dindingnya, sebuah cermin bundar roda, sepasang jendela kaca berukuran dua kali tinggi orang dewasa menghamparkan panorama: suatu bukit berwarna api seperti akan padam oleh laut yang berhempasan di kakinya. kapal berlayar, kapal bersandar, kapal terbakar: asapnya berpencar di udara, mengapung, membentuk gerombolan burung, menjalar bagai jalan sunyi tak berujung: jalan yang meletakkan ingatanku lagi pada jalan yang kulalui saat menuju gedung ini.

berpagar pohon-pohon bungur yang bunganya gugur, aku seolah melangkah di permadani warna anggur. di kananku, kau berjalan dan berkata kau tak lagi ingin memelihara hewan. di kirimu, aku berjalan tanpa suara apalagi tangisan. tiba di perempatan kita berdiri berhadapan. kau memandangku, aku melihat matamu. katamu, selamat tinggal, hewan. aku menatap kau pergi tanpa suara, tanpa kata, tanpa tanda. jalan yang kutempuh menuju gedung ini semakin sunyi. aku ingin singgah di kedai tempat kau biasa minum-minum, namun tempat itu hanya terbuka bagi suatu kaum. di atas permadani panjang berwarna anggur, aku berjalan menghitung uang yang kau lempar ke wajahku setelah kau selesai dengan tubuhku. bunga-bunga bungur yang gugur, warna matahari yang nyaris luntur, menemani perjalananku ke gedung ini.

aku mencarimu, memasuki pintu, menaiki tangga, tiba di ruangan tertinggi, dan kau tak ada, hanya ruangan berdinding coklat pala dengan lukisan-lukisan hewan yang tergantung di tembok, cermin bundar roda, sepasang jendela kaca berukuran dua kali tinggi orang dewasa. ruangan ini menjelma peti tak terkunci, dinding-dindingnya menggemakan teriakan, tangisan, tembakan, tamparan, desah persetubuhan. lukisan-lukisan hewan yang terpaku di tembok seperti mengganti sendiri gambar dirinya dengan coretan-coretan abstrak bermakna tak tertebak. pada cermin berbentuk roda, aku melihat jelas gerakan tanganmu menjambak rambutku, sebelum ke ranjang, tubuhku kau hempaskan. tangan yang ribuan kali membelai sekaligus membantai, tangan yang kucintai tetapi menistai.

dari sepasang jendela kaca kusaksikan sebukit api melontar percik-perciknya. ah, aku mencintai api, mencintai diriku, juga mencintai dirimu. kita terlahir pasti karena dan untuk sebuah alasan. sepanjang jalan, bersama bunga-bunga bungur yang gugur dan warna matahari yang luntur, alasan kelahiranku telah kutetapkan: di ruangan yang menjelma peti, di tempat aku biasa disetubuhi dan diludahi ini, aku akan membakarmu. bayangkan, betapa bahagia menyaksikan semua yang kucintai bersatu: api, kau, dan aku yang ribuan kali kau sebut hewan.

Inggit Putria Marga

di atas kepala

langit perak

awan berarak

di bawah tapak

permadani pasir

koyak

tertangkap mata

kelebat yang tak tampak:

tangan-tangan maut

mengangkat tepi laut jadi ombak

terbanting berkeping

bagai kelapa remuk di semak

dalam tubuh

jantung dingin berdetak

dalam pikiran

kenangan beranak pinak:

kematian anak

beras tumpah tak tertanak

hidup tak bersanak

nestapa getarkan pundak

mengikuti jalan angin

kaki terus bergerak

memasuki laut

: muara segala kehendak

A Mustofa Bisri

kesiur angin dan gemercik gelombang diterjang lancip hidung perahuku

kukira kelakar mereka yang menggunjingkan mabukku padamu

maka bintang-bintang yang berkedip-kedip di langit seperti mengejekku

tapi tak kuhiraukan aku tetap mengayuh sambil menutup dengan jemari kakiku

lobang-lobang pada dinding-dinding perahuku

yang dibuat khidir mengecoh lanun yang akan merampokku

sebelum ikan pepes sisa bekal musa meloncat ke samodera takjubku

haruskah aku membunuh bocah tak berdosa

menegakkan tembok nyaris runtuh secara sukarela

atau sekedar terus bertanya akan makna-makna

sebelum aku memutuskan akan ikut siapa

khidir atau musa?

Rembang, 15042010

A Mustofa Bisri

kureguk anggur abu nuwas hingga puas

kuminum bir tardji hingga lupa diri

sambil bertanya-tanya apakah dalam mabuk

abu nuwas dan tardji hilang bentuk?

tapi ku tak mabuk-mabuk juga

hanya terlena sekejap lalu terjaga

terlena sekejap lalu terjaga

tak sampai fana

jangan-jangan jalanku tak menujuMu

juga.

2007

A Mustofa Bisri telah menghasilkan sejumlah buku puisi, antara lain Ohoi: Kumpulan Puisi Balsem (1991), Wekwekwek (1996), Negeri Daging (2002), dan Gandrung: Sajak-sajak Cinta (2000/2007). Ia bermukim di Rembang, Jawa Tengah.

Inggit Putria Marga lahir di Tanjung Karang 1981. Ia menetap di Bandar Lampung. Buku puisinya adalah Penyeret Babi (2010).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s