Puisi Yang Bergerak Keluar Dari Waktu

Sebuah cerita niscaya berlangsung dalam suatu kerangka waktu. Adapun sebuah puisi bisa bergerak di dalam atau di luar waktu ataupun di batas antara keduanya.

Ada kalanya sebuah puisi menyatakan (dan menyuratkan tanda) waktu yang cukup jelas: pagi buta, siang bolong, malam larut, dan sebagainya, kadang berikut angka jam dan menitnya. Atau kadang kala yang tertulis di sana adalah rentang waktu: semalaman, sepagian, seharian, bahkan selamanya, dan seterusnya. Tak jarang pula tergambar rentetan peristiwa, rangkaian adegan, yang menyaran adanya waktu.

Tetapi, bagaimana dengan puisi yang tak memerikan, baik rangkaian peristiwa maupun tanda waktu? Bagaimana dengan puisi semisal ini: bayangan sosok putih/yang tak patah di tembok/ susah didekati/kecuali dengan diam//pada puncak kelembutan bicara/yang tinggal hanya menggeleng atau mengangguk//di gerbang kuil kata-kata terlalu tajam/ – seperti pisau belati/yang berdering jatuh di atas batu (Subagio Sastrowardoyo, ”Seperti Pisau Belati”).

Memang ada beberapa patah kata kerja di sana, tetapi keseluruhan puisi itu tak memberi kita serangkaian peristiwa yang berjalan dalam waktu, melainkan sederet citraan yang enigmatik dan mengundang penasaran. Seakan waktu berhenti atau raib dan kita mengalami sebuah dunia yang bisa dikenali, tetapi sekaligus asing: semacam dunia ambang, yang bukan juga antah berantah.

Dunia ambang semacam itu kerap pula tampak dalam puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dalam wujud lukisan suasana di suatu momen, kadang dengan penanda waktu, kadang tidak. Beberapa di antaranya malah menyiratkan betapa sejumlah hal ihwal di dunia ini tak niscaya terbingkai atau terangkum oleh waktu. Misalnya ”bahasa batu” (terutama pada tiga larik terakhir) dalam puisi ”Terbangnya Burung”: terbangnya burung/ hanya bisa dijelaskan/dengan bahasa batu/bahkan cericitnya/yang rajin memanggil fajar/yang suka menyapa hujan/yang melukis sayap kupu-kupu/yang menaruh embun di daun/ yang menggoda kelopak bunga/ yang paham gelagat cuaca/ hanya bisa disadur/ ke dalam bahasa batu/ yang tak berkosa kata/ dan tak bernahu/ lebih luas dari fajar/ lebih dalam dari langit/ lebih pasti dari makna/ sudah usai sebelum dimulai/dan sepenuhnya abadi/tanpa diucapkan sama sekali.

Yang lebih sering lagi melepaskan diri dari bingkai waktu ialah puisi Sutardji Calzoum Bachri. Lewat sugesti bunyi, mulai dari bentukan ajaib semacam ”potapapotitu potkaukah potaku, sepisau sepisaupa sepisaupi sepisapanya sepikau sepi”, hingga bebunyian ritmis seperti ”izukalizu mapakazaba itasatali tutulita zukuzangga zegezegeze”, puisi Sutardji seakan melontarkan pembaca ke sebuah dunia yang terbebas dari garis waktu yang menata peristiwa ke dalam intensitas yang tak terduga. Namun, di antara pelbagai puisi ”bebas waktu” itu ada juga puisi-puisi Sutardji yang menegaskan jalan waktu yang tak tertawar. Contoh paling gamblang adalah ”Hemat”: dari hari ke hari/bunuh diri pelan pelan//dari tahun ke tahun/bertimbun luka di badan//maut menabungKu/segobang segobang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s