Kemampuan Belajar Wanita Lebih Baik Dari Laki Laki

Pelajar perempuan memiliki kemampuan membaca lebih baik dibandingkan dengan pelajar laki-laki. Padahal, kemampuan membaca dalam arti luas terbukti menjadi kunci penting untuk mencapai kesejahteraan sosial dan ekonomi. Meski begitu, kesenjangan dapat dijembatani dengan membantu pelajar laki-laki lebih banyak dan suka membaca.

Hasil kajian Program for International Student Assessment (PISA) 2009 memperlihatkan, di semua negara yang dinilai, skor membaca siswi perempuan lebih tinggi hingga 39 poin yang setara dengan lebih dari separuh kecakapan belajar dalam setahun.

PISA adalah penilaian yang dilakukan tiap tiga tahunan oleh lembaga yang berafiliasi dengan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD). Negara yang berpartisipasi adalah 34 negara OECD dan 31 negara mitra, termasuk Indonesia, atau kota (Shanghai, China), dan satu wilayah khusus (Hongkong).

Tahun 2009 PISA menilai kemampuan membaca, kemampuan matematika, dan kemampuan iptek (www.pisa.oecd.org). Laporan ini juga mengindikasikan kemampuan sumber daya manusia suatu negara dalam bersaing di dunia internasional.

Secara keseluruhan, posisi Indonesia berada pada peringkat 57 dari 65 negara. Dalam kemampuan membaca, skor Indonesia adalah 402, sementara skor tertinggi diraih Kota Shanghai, China. Rata-rata, siswa dan siswi di Shanghai menunjukkan kemampuan paling tinggi dalam kemampuan matematika dan iptek (skor 600 dan 575). Adapun untuk kedua bidang tersebut, skor Indonesia adalah 371 dan 401.

Laporan ini menyebut, berdasarkan berbagai penelitian, kemampuan membaca secara luas, yaitu membaca untuk keperluan fungsional, seperti menemukan informasi praktis tertentu, ataupun membaca lebih dalam dan merefleksikannya untuk menemukan cara melakukan sesuatu, berpikir, dan memahami posisi diri, merupakan alat menduga tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi yang lebih baik daripada mengukur berapa tahun siswa bersekolah.

Apabila selama ini ada kekhawatiran siswi tertinggal dibandingkan dengan para siswa, penilaian PISA di negara OECD menunjukkan hal sebaliknya dalam kemampuan membaca.

Meski begitu, dalam kemampuan matematik, skor para siswa 12 poin lebih tinggi daripada siswi, sementara untuk skor iptek kesenjangannya lebih sempit.

Apabila dibandingkan di antara pelajar dengan skor tertinggi, tidak terdapat beda nyata antara siswi dan siswa. Di negara anggota OECD, 4,4 persen siswi meraih skor tertinggi untuk ketiga bidang tersebut, sementara jumlah siswa peraih skor tertinggi adalah 3,8 persen.

Dalam bidang matematika, jumlah siswa peraih skor tertinggi nyata lebih tinggi daripada jumlah siswi, yaitu 6,6 persen dan 3,4 persen. Hal sebaliknya terjadi pada kemampuan membaca, yaitu 2,8 persen untuk siswi dan 0,5 persen untuk siswa.

Hasil PISA menyebutkan, cara siswa membaca dan ketertarikan mereka pada kegiatan membaca membuat skor mereka lebih rendah daripada skor para siswi.

Karena itu, sebenarnya perbedaan itu dapat diatasi pengambil kebijakan pendidikan dengan mencari cara untuk membuat pelajar laki-laki lebih tertarik membaca dan mempelajari cara mengambil informasi penting dari bahan bacaan.

Meskipun ada perbedaan nyata kemampuan membaca tersebut, tetapi perbedaan itu lebih besar di antara siswi atau di antara siswa sendiri. Selain itu, kesenjangan antar-jender bervariasi di antara negara-negara yang dinilai. Hal ini memperlihatkan, tidak terdapat perbedaan minat atau kemampuan akademis secara inheren antara siswa dan siswi. Perbedaan itu lebih disebabkan lingkungan sosial. Temuan lain, para siswi di negara-negara OECD ternyata lebih senang membaca naskah fiksi dan majalah daripada para siswa, sementara para siswa lebih senang membaca koran daripada para siswi. Meskipun komik bukan pilihan para pelajar di negara OECD, tetapi para siswa cenderung lebih suka membaca komik daripada para siswi.

Selain itu, PISA juga menyebutkan, daripada sama sekali tidak suka membaca, membaca fiksi untuk kesenangan nyata memperbaiki kemampuan membaca, sementara membaca komik tidak berpengaruh banyak.

Adapun pelajar yang terlibat intensif membaca di media maya, seperti membaca surat elektronik, mengobrol, membaca berita dan kamus di internet, memiliki kemampuan membaca lebih baik daripada yang tidak menggunakan internet.

Kemakmuran

Yang menarik dari hasil penilaian ini, meskipun terdapat hubungan antara produk domestik bruto (GDP) dengan kinerja pendidikan, tetapi PISA memperlihatkan negara dengan tingkat GDP sama bisa memberikan hasil pendidikan sangat berbeda.

Contohnya Shanghai, yang skornya tertinggi di antara 65 negara untuk tiga bidang yang dinilai. GDP per kapita Shanghai jauh di bawah rata-rata negara-negara OECD. Begitu juga Korea, GDP per kapitanya di bawah negara anggota OECD peraih skor tertinggi, yaitu Finlandia.

PISA juga menemukan, meskipun latar belakang sosial-ekonomi keluarga kekurangan tidak selalu berarti rendahnya pencapaian hasil pendidikan, tetapi pengaruhnya nyata. Begitu juga latar belakang sosial ekonomi sekolah, memengaruhi pencapaian siswa.

Memperbaiki kondisi sosial ekonomi keluarga tidak bisa diselesaikan dalam jangka pendek, tetapi PISA memperlihatkan, sejumlah negara berhasil mengatasi pengaruh negatif kemiskinan terhadap hasil pendidikan. Hal ini memperlihatkan, sangat mungkin membongkar tembok pembatas kemiskinan untuk mencapai hasil pendidikan yang tinggi. Hal ini diperlihatkan siswa dari keluarga berlatar belakang sosial ekonomi di Shanghai dan Hongkong, di mana 76 persen dan 72 persen siswa dari keluarga kurang beruntung tetap memiliki kegigihan untuk mencapai hasil terbaik dalam pendidikan, sementara di Finlandia, Jepang, Turki, Kanada, Portugal, dan Singapura sebagai negara mitra, 39-48 persen siswa dari keluarga kurang beruntung memiliki kegigihan guna mencapai hasil terbaik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s