Cerpen: Kata Hati Si Dara Manis

Dara!” langkah- langkah bergegas mengejar Dara yang berjalan menuju kelas.

Dara tersenyum melihat Penny, Manda, dan Bunga yang seakan berlomba untuk sampai lebih dulu ke tempatnya berdiri.

”Wah, kalian sedang lomba lari ya?” Dara menggoda ketiga temannya.

Akan tetapi, ketiga temannya tidak menghiraukan gurauan Dara. Mereka menarik tangan Dara agar mendekat. ”Lihat,” ujar Bunga.

”Wow….” Mulut mungil Dara membentuk bulatan. ”Keren!” Dara mengagumi cincin perak yang dipakai Penny.

”Selepas pulang sekolah aku akan beli cincin seperti punya Penny,” kata Manda.

”Aku juga,” Bunga menyahut cepat. ”Yuk, kita beli sama-sama,” ajaknya kepada Dara.

”Beli di mana?” Dara menoleh pada Penny.

”Stroberi.”

DARA terdiam mendengar jawaban Penny.

Stroberi tempat Penny membeli cincin memang toko yang menjual aneka aksesori. Pasti harganya tidak murah, Dara bergumam dalam hati.

”Gimana?” Bunga masih menunggu jawaban Dara.

”Aku tidak membawa uang,” Dara menggeleng.

”Pakai uangku saja dulu,” Manda memberi tawaran.

Dara sempat ragu.

”Ayolah,” Bunga mendesak. ”Kamu bisa mengganti besok.”

Dara belum juga memberi kepastian ketika bel masuk terdengar. ”Cepat! Upacara bendera.” Dara mencoba mengalihkan desakan teman-temannya. Ia berlari ke lapangan upacara.

Sepanjang pelajaran hari itu Dara terganggu oleh rencana pulang sekolah nanti.

Tentu saja ia ingin mempunyai cincin perak seperti milik Penny. Selama ini Dara, Penny, Bunga, dan Manda selalu mempunyai barang- barang yang sama.

Tanpa sebuah ikrar, mereka membuat geng dengan ciri menggunakan aksesori yang sama.

SUDAH memasuki bulan ketiga Dara berada satu geng dengan Penny, Bunga, dan Manda. Selama itu pula mereka mempunyai barang-barang yang sama. Tas, sepatu, kaus kaki, alat-alat tulis, diary, gelang, bando, ikat rambut, bandana, dan T-shirt.

Bagi Penny, Bunga, dan Manda mungkin tidak bermasalah membeli barang-barang seperti kepunyaan teman agar bisa tampil kompak. Akan tetapi, bagi Dara, ia mulai keteter mengikuti gaya teman-temannya.

Dara tidak mungkin terus-menerus meminta uang kepada Ibu. Ibu sudah bekerja keras sepanjang hari menjahit baju-baju pelanggan agar Dara dan adiknya bisa tetap sekolah setelah Ayah tiada.

Memakai uang tabungan? Itu sudah dilakukan Dara berkali-kali. Tanpa sepengetahuan Ibu, uang tabungan Dara sudah mulai berkurang.

Padahal, uang tabungan itu untuk keperluan sekolah Dara dan adiknya jika Ibu sedang tidak ada uang.

Akan tetapi, yang lebih mengganggu pikiran Dara, terkadang ia tidak menyukai barang-barang yang telah dibelinya. Dara harus membelinya agar bisa kompak dengan anggota geng-nya.

Sebenarnya ada barang lain yang lebih Dara sukai dibanding membeli berbagai macam aksesori. Dara lebih menyukai buku.

SELAMA ini ada beberapa buku yang ingin ia beli, tetapi tidak pernah terbeli karena Dara lebih mengedepankan kepentingan geng.

Jika tidak kompak dengan gengnya, mungkin Penny, Bunga, dan Manda tidak lagi mau berteman dengannya. Namun, jika ia mengikuti aturan gengnya, itu menyiksa dirinya.

Aku harus jujur, kata hati Dara. Aku tidak bisa berpura-pura terus. Aku harus siap menerima kemungkinan apa pun. Sekalipun itu sangat pahit, mungkin Penny, Bunga, dan Manda akan menjauhiku. Akan tetapi, aku harus jujur, kata hati Dara kembali.

Kali ini Dara senyum, ada perasaan lega dalam dirinya.

”BAIKLAH anak-anak, latihan tadi kalian selesaikan di rumah.” Suara bariton Pak Saman menggema mengusik ketenangan kelas.

”Horeee….” Kelas menjadi ribut.

Pelajaran Pak Saman adalah pelajaran terakhir pada hari itu, jadi semua anak sibuk memasukkan buku dan peralatan tulis ke dalam tas.

Dara membereskan buku-bukunya. Saat itu pandangan Dara beradu dengan Penny yang duduk di sebelah mejanya.

”Jadi?” tanyanya.

Dara hanya tersenyum. Akan tetapi, sesungguhnya ia sudah mempunyai jawaban.

Begitu Pak Saman meninggalkan kelas Penny, Bunga dan Manda mengerubunginya.

”Ayo!” ajak Bunga.

”Biar kita punya cincin yang sama,” Penny berkata.

Dara menggeleng.

Ketiga temannya heran. ”Kenapa?” tanya Manda.

”Maaf, aku tidak bisa.” Dara memandang ketiga temannya.

”Aku tidak bisa mengikuti apa yang kalian beli. Andai pun aku punya banyak uang, aku tidak ingin menjadi pengekor karena kadang aku tidak suka dengan barang- barang geng kita.”

Angin seperti berhenti bertiup.

”Maaf.” Dara melangkah meninggalkan Penny, Bunga, dan Manda yang masih berdiri mematung memandang kepergian Dara.

”DARAAA….” Tiba-tiba panggilan beramai-ramai menghentikan langkahnya yang sudah sampai di pintu gerbang sekolah.

Penny, Bunga, dan Manda berlari mengejar Dara.

”Tetapi kita tetap berteman, kan?” kata ketiga temannya sambil memandang Dara.

Dara tidak menduga akan pertanyaan itu. Dengan tersenyum lebar Dara mengangguk. ”Ya! Tentu saja.”

Angin bertiup sepoi-sepoi. Keempat sahabat itu bergandengan tangan penuh persahabatan menuju ke halte sekolah.

Pupuy Hurriyah Penulis Cerita Anak, Tinggal di Jakarta

One response to “Cerpen: Kata Hati Si Dara Manis

  1. Hidup Dara…..🙂 si kecil yang sudah punya pendirian yang kuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s