Secercah Harapan bagi Pendidikan Suku Bunggu

Fajar baru saja menyingsing ketika Ibrahim (30) dan Naomi (28) meninggalkan rumah mereka di Dusun Saluira, Desa Tampaure, Kecamatan Bambaira, Kabupaten Mamuju Utara, sekitar 300 kilometer arah timur Mamuju, ibu kota Provinsi Sulawesi Barat. Mereka berjalan membelah hutan, sungai, dan kebun-kebun kakao milik suku Bunggu di pegunungan Tasirana, Batu Putih, dan Pagar Mawu.

Pagi itu, akhir Oktober 2010, keduanya ditemani Rusdiana dan Dian Rachmawaty dari Balai Pengembangan Pendidikan Non Formal/Informal (BPPNFI) Regional V Makassar. Sembari berjalan, sesekali Ibrahim dan Naomi berseru ala tarzan di film komedi, ”Aaaauuuuuu…., uuuuuuu…!” Teriakan ini menggema dan langsung disahuti teriakan serupa dari belahan hutan yang lain.

Ini adalah semacam kode untuk memanggil anak-anak suku Bunggu, salah satu suku terasing yang berdiam di pegunungan di sekitar Mamuju Utara.

”Sebenarnya mereka sudah tahu kalau hari ini ada jadwal belajar. Tapi, kami tetap mengingatkan, kalau-kalau ada yang lupa,” papar Ibrahim.

Pagi itu, Ibrahim dan Naomi akan menunaikan tugas mengajar anak-anak suku Bunggu di sekitar Kecamatan Bambaira. Jadwal mengajar yang sudah ditetapkan adalah hari Senin, Rabu, dan Jumat. Proses belajar yang disepakati pukul 08.00-10.00. Namun, kerap baru bubar pada pukul 11.00. Program ini diselenggarakan BPPNFI Regional V Makassar yang mewilayahi seluruh provinsi di Sulawesi. Sasarannya adalah anak usia dini atau usia prasekolah.

Suku Bunggu yang berdiam di pegunungan sekitar Kecamatan Bambaira dan pegunungan lain di Mamuju Utara adalah bagian dari suku Kaili Da’a yang ada di Sulawesi Tengah. Mereka berdiam di pegunungan Kamalisi dan Gawalise. Selama ratusan tahun, komunitas suku itu hidup di pegunungan.

Kata ”Bunggu” berarti gunung. Suku ini hidup berpindah-pindah secara berkelompok. Satu kelompok bisa terdiri dari 5-10 keluarga. Diperkirakan, masih ada sekitar 1.000 kelompok yang tersebar di wilayah pegunungan sekitar Mamuju Utara. Lokasi berdiam antara satu kelompok dan kelompok lain yang berjauhan membuat pemerintah selama ini sulit mencari model pembelajaran yang tepat untuk mereka.

Tak tersentuh

Setelah sekitar satu jam berjalan kaki, Ibrahim dan rombongan akhirnya tiba di sebuah bangunan kayu sederhana yang merupakan tempat belajar. Bangunannya berbentuk rumah panggung yang keempat sisinya separuh terbuka. Strukturnya berlantai papan. Jarak lantai dengan tanah sekitar satu meter. Tempat ini disebut Panti Belajar Sao Madamba Pura, yang berarti tempat untuk bergembira.

Saat tiba, sekitar 30 anak berusia 3-6 tahun sudah hadir ditemani orangtua masing-masing. Sebagian anak memakai baju dan celana, sebagian hanya bercelana, dan lainnya lagi hanya mengenakan baju. Satu yang sama, semua tanpa alas kaki.

Saat melihat kehadiran orang asing bersama Ibrahim dan Naomi, sebagian anak langsung menunduk. Cukup lama untuk berani mendongakkan kepala lagi. Seorang anak bahkan terusmenerus menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ada pula yang menangis ketakutan.

Harap maklum, dalam kehidupan sehari-hari, mereka hampir tidak pernah bertemu orang lain selain orangtua dan kerabat yang berada dalam kelompoknya.

Proses belajar pun dimulai. Didahului dengan bernyanyi sembari menggerakkan tubuh. Permulaan ini bukan asal dilakukan karena sembari menggerakkan anggota tubuh, anak- anak ini diajari mengenal bagian-bagian tubuh dalam bahasa Indonesia. Ini bukan perkara mudah, mengingat setiap kata atau kalimat harus diterjemahkan dalam bahasa ibu mereka, yakni bahasa Kaili.

Sebelum mengikuti pelajaran di kelompok belajar Madamba Pura, hampir semua anak ini sama sekali belum mengenal bahasa Indonesia. Banyak hal yang seharusnya sudah diketahui anak-anak seumur mereka, tetapi sama sekali masih baru bagi anak suku ini, misalnya berjabat tangan, mengucap salam, menyapa, memperkenalkan diri, dan membedakakan warna.

Tentu bukan urusan mudah mengajar anak-anak ini yang sehari-hari tumbuh dan berkembang hanya bersama orangtua, saudara, dan orang-orang yang ada dalam kelompok kecil dalam suku mereka. Setiap hari anak-anak ini hanya mengenal rumah, hutan, dan kebun. Ke mana saja orangtua mereka pergi, mereka dibawa serta. Tak heran, semua hal yang diajarkan sebisa mungkin diartikan pula dalam bahasa Kaili untuk memudahkan mereka memahami pelajaran.

Suasana belajar menampakkan situasi yang menggelikan dan menggemaskan. Kerap pula mengejutkan, misalnya ketika Naomi meminta anak yang berbaju hijau masuk ke dalam ruang belajar atau mengacungkan tangan, mereka diam. Namun, ketika Naomi menyebut Nanggamata, seluruh anak yang berbaju hijau maupun biru mengacungkan tangan atau masuk ke ruangan. Rupanya, warna biru dan warna hijau sagi Suku Bunggu punya penyebutan sama, Nanggamata.

Contoh lain ketika mereka ditanya, bagaimana rasa garam, sebagian besar masih menjawab ”paga” yang berarti asin. Pun ketika ditanya warna kopi, mereka menjawab, ”vuri” yang berarti hitam. Ketika ditunjukkan cabai, sontak mereka menjawab ”marisa”.

Soal bersalaman misalnya, banyak yang perlu diajar berulang-ulang untuk bisa melakukannya. Hari itu, seorang anak yang langsung turun tangga tanpa bersalaman, diingatkan oleh rekannya untuk menyalami Naomi dan Ibrahim. Apa yang dilakukan? Dari tempatnya berdiri, anak itu berteriak, ”Guruuuuu,” sembari mengangkat tangannya dan berharap Naomi dan Ibrahim yang menghampirinya untuk bersalaman.

Menurut Rusdiana, penanggung jawab lapangan program belajar untuk anak-anak suku Bunggu dari BPPFNI Regional V, program belajar ini lebih untuk mempersiapkan anak-anak suku terasing ini secara mental jika kelak melanjutkan pendidikan di sekolah formal. Dalam program ini, mereka diajari bahasa Indonesia dan aspek motorik, kognitif, moral, etika, sosial, dan emosional.

Terpancar semangat dan kegembiraan dari wajah mereka. Tak kalah gembira adalah oragtua mereka. Memang, saat menunggui anak-anak belajar, orangtuanya juga belajar keaksaraan. Tak hanya orangtua, nenek, paman, dan siapa pun ikut belajar.

Yatunama Simbarlangi (70), tokoh adat suku Bunggu, mengakui, selama hidupnya, ia menyaksikan sebagian besar orang suku Bunggu tak mengenal pendidikan. ”Sebenarnya jauh di lubuk hati, kami ingin seperti orang lain yang sudah maju. Hanya saja selama ini selain butuh biaya, letak sekolah sangat jauh. Makanya ketika ada kelompok belajar seperti ini, kami sangat senang,” katanya.

Bagi suku tersebut, tidak ada lagi alasan untuk bilang tidak karena sekarang tempat belajar dan guru yang mendatangi mereka.

Kepala Balai Penyelenggara Pendidikan Non Formal/Informal Regional V Makassar M Hasbi mengatakan, dengan membangun tempat pembelajaran di sekitar kediaman mereka, anak-anak suku terpencil, terutama anak usia dini, bisa memiliki rasa percaya diri untuk menapak jenjang selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s