Buku Baru: Batikku, Pengabdian Cinta Tak Berkata

Membuat batik tulis adalah seni melukis dengan tangan, menggunakan canting, dan dibimbing oleh hati. Walau karya batik dapat dimiliki setiap orang, tapi tak seorang pun pantas mengakui sebagai karyanya. Menjadi tanggung jawab kita untuk melestarikan tradisi budaya yang turun-temurun telah diabdikan para pembatik tulis.

Buku ini dipersembahkan bagi kejayaan batik Indonesia. Kecintaan penulis pada batik tumbuh sejak masa kecil, saat mulai mengenal canting dan malam (lilin), dua materi utama untuk melukis batik tulis. Malam, pewarna alami yang kembali digunakan menggantikan pewarna sintetis, melambangkan kearifan nenek moyang akan kelestarian hidup.

Para ahli memperkirakan, seni batik dirintis oleh kerajaan Jawa Kuno di Timur dan berkembang di keraton-keraton Jawa Tengah. Berabad-abad kemudian, tercipta corak, warna, dan makna batik Jawa hasil persentuhan dengan budaya-budaya Tiongkok, India, Eropa, dan Arab. Dalam keseharian, batik menjadi ekspresi kreativitas penggiatnya yang kemudian tercermin pada seni berbusana.

Pada bab akhir, ditampilkan ragam batik koleksi pribadi penulis, seperti yang pernah tampil dalam World Expo 2010 di Shanghai, China. Koleksi tersebut antara lain batik Priangan (Garut, Tasikmalaya), pesisiran (Betawi, Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Rembang, Lasem, Tuban), serta batik pedalaman (lahir dari akar-akar budaya lokal di lingkungan keraton Kerajaan Mataram).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s