Cerpen: Kisah Sang Ratu Mimpi

”Da-dah…. Ratu Mimpi!” teriak beberapa anak dengan nada kesal dari dalam mobil jemputan.

Aku mendengus lalu membanting pintu, tak membalas sapaan mereka. Kemudian dengan segera mobil melaju meninggalkan rumahku.

Aku tahu, pasti mereka kesal gara-gara aku mendapat hukuman dari Bu Andre, guru matematika, untuk mengerjakan tugas tambahan sepulang sekolah.

Mereka pun harus pulang terlambat sepertiku. Bahkan Pak Mamad, sopir jemputan, juga tampak kesal.

”Dapat hukuman lagi?” terdengar suara Mama ketika aku membuka pintu depan.

”Apa lagi yang kamu lakukan Bella?” tanya Mama.

Tetapi aku masih tetap diam tak menjawab.

”Bella, makan dulu!” kata Mama lagi.

Dengan enggan aku beranjak menuju ruang makan, sebelum Mama memanggilku lagi.

TERNYATA di ruang makan sudah duduk dengan rapi Tante Della, Kak Toni, dan Mama. Tante Della adalah adik Mama.

”Halo Tante Della, kapan datang?” tanyaku enggan.

”Tadi pagi, kebetulan kuliah libur jadi bisa liburan di sini.”

”Dihukum apa Bella?” tanya Kak Toni, ”Menulis kalimat seratus kali seperti biasa?” tambahnya sambil tertawa meledek.

Aku segera meraih apel yang ada di tengah meja dan berusaha melemparkan ke arah Kak Toni.

Mama segera memegangi tanganku untuk mencegah.

”Kenapa Bella sering dihukum?” tanya Tante Della setelah aku duduk dan mulai makan.

”Biasa Tante, Ratu Mimpi suka melamun,” jawab kak Toni.

”Hush!” kata Mama menyuruh Kak Toni diam.

”Oya! Melamun, melamun apa?”

”Enggak tahulah Dell, aku juga bingung. Bella sering sekali mendapat hukuman karena tidak konsentrasi di kelas. Dia sering melamun, bahkan aku sudah empat kali dipanggil wali kelasnya. Dia tetap saja begitu, tidak ada perubahan,” kata Mama panjang lebar.

”Apa sih yang kamu lamunkan Bella?” tanya Tante Della.

”Banyak Tante, penuh sesak di kepala, peri-peri, princess, kelinci yang bisa bicara, burung-burung yang bermain biola,” jawabku dengan malas.

”Wow…!” teriak Tante.

SEMENTARA itu kulihat Mama menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Hari ini apa yang kamu lamunkan?”

”Monster blender yang menyerang sebuah pertanian. Monster itu memblender semua hasil panen petani. Rencananya akan muncul monster listrik yang dapat memusnahkan monster blender…., tetapi Ibu Andre sudah telanjur melemparku dengan gulungan kertas,” jawabku.

”Hah, monster blender!” teriak Kak Toni kaget.

Kulihat Tante tersenyum simpul, sedangkan Mama pergi meninggalkan meja makan.

”Capek enggak dapat hukuman terus?” tanya Tante Della.

”Capek dan malu.”

”Usir dong lamunannya!” kata Mama sambil membereskan piring.

Sementara itu Kak Toni sudah tidak tampak lagi di meja makan. Mungkin dia sudah masuk ke kamarnya untuk istirahat siang.

”Hemm…, nanti malam kita pikirkan jalan keluarnya,” lanjut Tante Della sambil beranjak menuju kamar tidur tamu.

MALAM harinya.

”Hai, Bella!” sapa Tante Della setelah mengetuk pintu kamar dan kuizinkan masuk. Tante Della langsung merebahkan diri di sebelahku.

”Sebenarnya, menurut Tante lamunan kamu itu bukanlah lamunan biasa, tetapi bakat yang luar biasa.”

”Masa sih?” kataku antusias dengan hati yang berdebar-debar. ”Cuma Tante yang bicara seperti itu, yang lain mencemoohku bahkan guru-guru dan Mama memarahiku.”

”Masalahnya, kamu melamun pada saat yang kurang tepat.”

”Jadi…?”

”Dari lamunan itu kamu bisa menjadi seorang penulis seperti Tante.”

”Ha, bener Tante? Nanti aku dapat uang sendiri seperti Tante?” tanyaku.

”Tetapi, yang harus kamu pikirkan adalah apa yang harus kamu kerjakan terlebih dahulu. Uang itu buah dari hasil kerja keras kita.”

”Pertama kamu harus disiplin. Kapan kamu boleh melamun atau dalam istilah Tante mencari ide, dan kapan kamu tidak boleh melakukan itu. Jadi kamu harus mempunyai waktu khusus untuk melakukannya,” jelas Tante.

”BAGAIMANA kalau lamunan itu tiba-tiba muncul?” tanyaku.

”Gampang, cepat-cepat catat garis besar ide itu lalu belajar lagi,” kata Tante sambil menyerahkan sebuah buku kecil.”

”Ini untuk mencatat semua idemu.”

”Garis besar itu apa Tante?”

”Garis besar itu sama dengan pokok pikiran. Contohnya jika terjadi hal seperti tadi siang di kelas, cepat-cepat kamu ambil buku catatan ini, lalu tulis ’monster blender menyerang pertanian tetapi ada monster listrik yang menghalanginya’.

Itu adalah pokok pikiran dari cerita yang nantinya akan kamu kembangkan. Tetapi harus kamu ingat, jika sudah berlatih untuk disiplin, kamu sama sekali tidak boleh mencari ide pada saat belajar. Mengerti!”

”Cihui… aku nanti jadi penulis dan ceritaku diterbitkan di majalah!” teriakku.

”Eitt… tunggu dulu! Banyak sekali yang harus kamu lakukan sebelum mencapai semua itu. Kamu harus belajar tata bahasa yang benar, belajar membuat kalimat yang efektif, membuat alur cerita yang urut, dan banyak membaca buku agar wawasan kamu bertambah. Yang lebih penting lagi kamu harus disiplin agar tidak ada hukuman lagi buat kamu.”

”Siap Tante, sekarang Tante keluar dari kamar Bella agar Bella bisa menulis cerita Bella!” kataku.

”Iih…, masa Tante diusir!” kata Tante. ”Da-dah Ratu Mimpi!” tambahnya.

”Ya…aku Ratu Mimpi, calon penulis,” jawabku bangga dan bersiap-siap menulis ceritaku.

”Eit.., tidak ada hukuman lagi!” kata Tante Della sambil keluar kamar.

”Tidak ada hukuman lagi” tambahku dengan yakin.

Dyah Ida Mundisari Penulis Cerita Anak, Tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s