Menciptakan Ladang Buku Untuk Semua Orang

Kursi-kursi tertata rapi di jalanan kampung, dinaungi tenda dan dilengkapi sound system. Warga tampaknya sedang punya hajat.

Walau seluruh warga, mulai anak-anak hingga orang dewasa berdatangan, hajat itu bukan resepsi pernikahan atau sunatan massal. Acara sore itu adalah peresmian taman bacaan warga, Ladang Aksara.

Ladang Aksara merupakan hasil kerja sama warga Gunungsari 2 RT 01 RW 08 dengan Kompas MuDA Surabaya. Bagaimana hingga akhirnya Water Banders bekerja sama dengan warga Gunungsari 2?

Setelah mendapat tugas melaksanakan program tanggung jawab perusahaan (CSR) Kompas, Water Banders segera menggelar rapat, berunding taman bacaan mana yang akan dipilih untuk mendapat bantuan 1.000 buku dan dan operasional Rp 1 juta.

Setelah mendapat informasi mengenai keberadaan taman bacaan yang sesuai kriteria, yaitu minat baca tinggi tetapi sarana dan prasarana kurang memadai, Water Banders memilih tiga taman bacaan yang berpotensi untuk menjadi partner CSR Kompas.

Kompas MuDA Surabaya pun melakukan survei ketiga taman bacaan tersebut. Sebenarnya taman bacaan Ladang Aksara tidak masuk dalam daftar.

Salah satu dari ketiga taman bacaan yang disurvei adalah taman bacaan yang berada di stren kali Surabaya. Masih di wilayah Gunungsari tetapi bukan di wilayah RT 01 RW 08.

Taman bacaan tersebut berada tepat di pojok kampung dan berhadapan kurang dari 5 meter dari sungai Surabaya. Taman bacaan ini pun sebenarnya sempat ”hidup”, tapi kemudian mati suri karena manajemen yang kurang baik. Posisinya yang berada di pojok dan jauh dari jangkauan anak-anak membuat taman bacaan ini makin sepi.

Berangkat dari kondisi tersebut, pengelola taman bacaan itu kemudian mengajak Water Banders bekerja sama dengan warga Gunungsari 2 RT 01. Daerah tersebut cukup strategis untuk taman bacaan sebab berada di tengah kampung. Selain itu, keinginan warga untuk memiliki taman bacaan juga cukup tinggi. Hanya karena terkendala masalah operasional sehingga saat itu taman bacaan itu belum berdiri. Gunungsari 2 bukan kawasan penduduk menengah atas, tetapi warga di sana punya kesadaran akan pentingnya membaca.

Akhirnya Water Banders menyurvei tempat itu. Saat itu, Water Banders diterima di balai kampung, tempat di mana warga berencana mendirikan taman bacaan.

Kondisi balai kampung masih dalam tahap pembangunan. Atap masih belum terpasang semua, lantai belum jadi, dan jendela pun tak berkaca. Saat itu jujur Water Banders ragu apakah mungkin di tempat seperti ini akan didirikan taman bacaan?

Antusias warga

Namun, melihat antusiasme perwakilan warga saat Water Banders mengutarakan niat ingin membantu taman bacaan dengan memberikan 1.000 buku, keraguan itu lenyap. Gayung bersambut karena salah satu kendala warga adalah sumber buku-buku untuk taman bacaan mereka. Pak RT kemudian berjanji akan segera menyelesaikan pembangunan balai kampung.

Yang membuat kami semakin yakin memilih Gunungsari 2 adalah karena balai kampung itu dikerjakan secara swadaya oleh warga. Setiap hari Minggu, warga bergotong royong mendirikan balai tersebut.

Bahan-bahan material berasal dari warga Gunungsari 2. Inilah nilai keindonesiaan yang mulai dilupakan, gotong royong. Di saat hampir seluruh kota besar Indonesia kehilangan kearifan lokal, ternyata hal itu masih bisa ditemui di Surabaya, di Gunungsari 2.

Minat baca warga yang tinggi tetapi kurangnya sarana prasarana tidak menyurutkan niat mereka untuk mendirikan taman bacaan. Dari situlah, kami semakin yakin bahwa pilihan kami tidak salah.

Warga menunjukkan kesungguhan mereka dengan pembangunan balai kampung yang dipercepat. Dalam waktu lebih kurang satu bulan, akhirnya balai kampung tersebut jadi dan siap digunakan sebagai taman bacaan.

Sabtu sore itu, anak-anak kecil menari di panggung, menghibur warga dan Water Banders. Ladang Aksara resmi dibuka. Warga Gunungsari 2 kini telah memiliki taman bacaan yang mereka impikan.

Sukacita tampak jelas dari wajah-wajah lugu anak-anak. Tiga ratus buku yang telah diterima—pemberian buku dilakukan secara bertahap—mengundang mereka untuk membaca.

Semoga 1.000 buku yang diberikan bermanfaat untuk warga dan mampu menumbuhkan budaya baca di kalangan rakyat Indonesia, apa pun status sosial dan ekonominya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s