Sekolah Mulai Melakukan Katrol Nilai Untuk Menjamin Siswa Lulus Meski Nilai Ujian Nasional Jelek

Banyak sekolah diduga mengatrol nilai siswanya. Langkah tersebut dilakukan karena mulai tahun ini nilai sekolah dipertimbangkan dalam menentukan kelulusan siswa, selain nilai ujian nasional.

”Hasil perolehan murid tidak wajar karena didominasi nilai 8 dan 9,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Mohammad Abduhzen.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Jumat (15/4), mengatakan, nilai siswa di jenjang SMA/MA/ SMALB menunjukkan mayoritas nilai murid memperoleh nilai 8 dan 9. Dari 1,5 juta total peserta didik, sebanyak 870.559 murid (58,66 persen) mendapat nilai 8-9 dan sebanyak 542.210 murid (38,54 persen) mendapat nilai 7-8. Hanya 27.081 murid (1,82 persen) yang mendapat nilai 6-7 serta masih ada 510 murid yang mendapai nilai 5-6 dan 76 murid dengan nilai kurang dari 5.

Distribusi nilai sekolah secara nasional di SMA/MA/SMALB menunjukkan nilai rata-rata sekolah 8,11 dengan nilai minimum 4,05 dan nilai maksimum 9,99. Sementara di SMK nilai rata-ratanya 8,12 dengan nilai minimum 4,6 dan nilai maksimum 9,92.

Diberi insentif

Mohammad Abduhzen mengatakan, tingginya nilai siswa tersebut karena adanya ketentuan komposisi nilai UN dan nilai sekolah sebesar 60 banding 40. ”Komposisi ini menuntut sekolah membekali murid dengan nilai tinggi untuk mengantisipasi kalau nilai UN rendah,” kata Abduhzen.

Menurut Nuh, sekolah yang memperoleh nilai UN lebih tinggi dari nilai sekolah berarti kualitas sekolah itu telah melebihi standar nasional dan akan diberikan insentif dengan pengakuan akreditasi. Sebaliknya, jika nilai sekolah yang lebih tinggi atau disparitasnya terlalu jauh dari nilai UN, akan diberikan disinsentif.

”Kalau nilainya terlalu berbeda jauh, berarti ada upaya guru atau sekolah memberikan ‘perlakuan belas kasihan’ pada penilaian murid,” kata Nuh.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdiknas Mansyur Ramli mengingatkan, murid yang memperoleh nilai sekolah di kisaran 4-5 harus berusaha lebih keras saat UN.

Menurut Ramly, hasil perbandingan nilai sekolah dan nilai UN akan digunakan untuk memetakan kondisi sekolah dan kemampuan murid.

Persiapan UN

Dari berbagai daerah dilaporkan, menjelang ujian nasional tingkat SMA sederajat pada Senin (18/4), sejumlah sekolah mulai melakukan persiapan. Selain melakukan latihan soal, murid-murid juga melakukan doa bersama.

Di Magelang, Jawa Tengah, yang merupakan daerah bencana Gunung Merapi, siswa yang akan mengikuti ujian nasional diharapkan tinggal di sekolah dua hari menjelang ujian nasional. ”Langkah ini untuk mengantisipasi jika terjadi banjir lahar dingin,” kata Sekretaris Panitia UN Kabupaten Magelang Haryono. UN di Kabupaten Magelang akan diikuti 3.966 siswa SMA/MA, dan 3.784 siswa SMK. Di daerah lain, soal mulai disebarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s