Kumpulan Terbaru Puisi Baequni M Haririe

HARI JUM’AT

Jum’at
Maksiat dan munajat
Bersekat-sekat
Barangkali setipis selaput dara
Segala dosa dan doa
Membungkus jua

Jum’at
Malam dan siang
Bergantian
Barangkali soal waktu
Segalanya diburu
Terbungkus nafsu

Jum’at
Lelaki dan perempuan
Berkelamin
Barangkali soal keintiman
Menjadi halal dan haram
Dibungkus berkelanjutan

Membungkusi nikmat
Atas curahan jum’at

Cirebon, 27052010

DI TELAGA REMIS

Desahmu begitu nyaring sewaktu di Telaga
Nafasmu dingin, datang bersama angin
Entahlah, bila semua itu kau tujukan padaku
Aku tak tahu, tiba-tiba saja seperti ada yang meronta
Berusaha terlepas dari keangkuhan batu-batu tua

Rupanya dirimu yang bersemayam di sana
Berapa waktu dan berapa tamu menjadi tak perlu
Karena yang kau tunggu sepertinya diriku

Seingatku, aku sama sekali tak membakar dupa
Atau membaca mantra dulu untuk datang ke Telaga
Aku menyambangi tempat itu untuk mengenang
Dimana hasratku waktu dulu begitu menyatu
Dengan semua jenis daun dan bebatuan di situ

Suaramu tak teratur ketika menyambutku
Gemericik air menggemakan sendiri suaranya
Percik air yang menyentuhku pun begitu mesra
Mengalahkan rindu yang kau muliakan layaknya dewa

Kini, Telaga itu kembali pasrah
Seperti semula, semuanya menjadi kasat mata
Batu, daun, titik air dan kesejukan
Saling menyapa bergantian

Cirebon, 2010

_____Telaga Remis: sebuah objek wisata yang terletak di Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Jaraknya kurang lebih 37 km ke arah utara dari kota Kuningan dan kurang lebih 13 km kea rah selatan dari kota Cirebon. Terletak lebih 20 km dari kota Cirebon ke arah Majalengka, telaga ini tersembunyi di antara rerimbunan pohon pinus dan bebatuan cadas. Telaga yang asri dan sejuk ini belum tersentuh pengelolaan yang baik.

KESUCIAN

Kerut di lehermu
Seolah memberitahu
Betapa kehangatan
Dapat diterjemahkan

Rekah bibirmu
Pun memberitahuku
Betapa kerinduan
Dapat dilumatkan

Tidak pada matamu
Yang enggan terbuka
Justru dengan terpejam; katamu
Adalah tanda ketulusan dan kenikmatan

Tidak semata-mata
Musabab waktu yang lama
Dapat merubah ritme desah
Kadang sayup
Kadang samar
Kadang lirih
Kemudian diam
Dan terekam sepanjang malam

Tidak, bukan itu; katamu
Kesucian yang kau inginkan

Cirebon, 2010

KEPADA SIAPA AKU BERTANYA

Bertahun-tahun kita merayakan
Berulang-ulang meritualkan panjat pinang
Berkibar-kibar merah-putih kembali terpasang
Dimana-mana kita lantunkan Tujuh Belasan

Kawan,
Sebenarnya kita sedang memerdekakan apa?

Cirebon, 17082010

KARENA SENYUM

Ingin kudekati dirimu
Saat dimana kau sedang tertidur
Dengan wajah yang tulus
Dan separuh jiwamu terbang
Entah kemana
Bertemu dengan siapa
Atau sedang mengelana
Jauh ke segala arah

Ingin kudekap hatimu
Saat dimana kau sedang tertidur
Dengan detak jantung yang teratur
Dan separuh nafasmu memanduku
Untuk menunggu
Entah di mana
Di bahu atau di dadamu
Hingga sebelum fajar
Aku dibangunkan oleh senyum
Dari sisa bibirmu yang ranum

Cirebon, 23092010

DZIKIR KOPI

Hitam adalah nyawamu
Air panas lalu gelas
Menyetubuhimu senafas demi senafas
Pada keikhlasanmu, tuan dan permaisuri
Ia menyeduh banyak arti

Kental, pahit, manis dan pekat
Layaknya fase rapalan tirakat
Sendiri, berdua atau bersama-sama
Hitam, coklat atau bercampur susu
Dzikirnya tetaplah syahdu dan khusyu’

Sesekali, nyawamu menghangatkan tembakau
Yang dihembuskan mesra dingin danau
Atau ia dilepaskan di puncak gunung
Atau di gubuk sawah atau di pojok kampung
Atau di tengah hiruk-pikuk kota
Bahkan di ranah yang lebih hitam
Pagi, siang, sore maupun malam
Kemarau, cerah atau saat hujan
Nyawamu selalu bergentayangan

Kopi, dalam mantra jiwa
Dikutuk hanya bagi pecinta

Cirebon, 29092010

JUDUL MENYUSUL

Berjanjilah nanti di depan kuburku, sebagai perempuan tangguh. Menjadi seorang bunda dari cakrawala cinta. Deru angin sesungguhnya tak sengaja melepaskan gemuruh batin atau mengirimkan wangi kelabu kepadamu. Itu hanya tanda, betapa kesempurnaan adalah Tuhan. Bersaksilah nanti di depan kuburku, bahwa namaku dari ketidaksengajaan dan kini pantas untuk dibenamkan. Kau menunggu pelangi, dan aku mati.

Cirebon, 19102011

JALAN PEMUDA

Kopi hitam ini pahit, padahal telah kuaduk dengan manis senyummu. Di tepian jalan, aku tak bisa membedakan lagi; mana asap rokok dan asap dari kebisingan itu. Penjaga Cafe memotong daun, menyiramkan air, merawat tetumbuhan agar terus berdzikir. Aku masih di sini. Mencairkan hiruk-pikuk jalanan yang padat. Terik mentari kian menyilaukan, kursi dan meja begitu kaku memamerkan lapisan debu. Kau tahu, aku masih di sini. Di sebelah ada yang berulang tahun, entah yang keberapa, tubuhnya basah. Tapi ia sumringah ditasbihkan teman-temannya sebagai lelaki paling bahagia. Setidak-tidaknya untuk hari ini, semoga sampai akhir hayatnya. Dengarlah, aku masih di sini. Merekam segala harapan dan penantian. Pisang goreng tinggal satu, sendok dan garpu seolah buntu, tak bisa lagi menghidupkan rindu. Perlahan-lahan langit mulai menua. Aku, masih terus menantang senja. Segelintir karyawan curiga, seperti menyimpan gelisah yang sama. Maka, aku pergi dari sini, mengikuti angin barat yang katanya sedang sekarat. Tuhan, aku tinggalkan kopi hitam untukMu.

——–

Baequni M Haririe, lahir di Cirebon, 19 Juli 1975. Senang menulis puisi, cerpen dan novel serta melukis. Sampai saat ini aktif di Komunitas Seniman Santri (KSS).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s