Modus Anomali Genre Baru Film Psikologi Indonesia

Lelaki itu terbangun di tengah hutan, keluar dari liang lahat. Tersirat ketakutan di wajahnya. Dan dia megap-megap, seperti kehabisan napas. Kemeja, kaos, serta celana jinsnya kotor dengan cokelat tanah. Dalam kepanikan, dia berlari menembus hutan.

Si lelaki adalah aktor Rio Dewanto. Tapi dalam Modus Anomali, identitas Rio tidak jelas. Dia hanya tahu namanya John, berdasarkan tanda pengenalnya. Tapi siapa perempuan dan dua anak yang tergambar pada foto dalam dompetnya, John tak bisa mengingat. Bahkan rumah yang dia temukan di tengah hutan, membawanya ke deretan teka-teki selanjutnya. Membuat dia gila.

Dalam Modus Anomali, sutradara Joko Anwar seperti tidak rela melihat penonton bisa dengan mudah menebak apa yang sebenarnya terjadi. Malah dia pelit memberikan porsi dialog untuk pemainnya, terutama Rio. Kalau Anda pernah menonton The Artist, seperti itulah Modus Anomali. Menekankan pada mimik, bahasa tubuh, suasana per adegan, dan kekuatan plot.

Dialog yang diciptakan Joko Anwar hanya sebuah penekanan apa yang dipikirkan kedelapan pemainnya. Itu pun diucapkan Rio dan kawan-kawan dalam bahasa Inggris. Kata Joko Anwar, bahasa Inggris dipilih karena bangsa Indonesia tengah mengalami inferiority complex, merasa rendah diri dengan bangsa lain. Orang Indonesia lebih bangga ketika ada warga asing yang mengangkat budaya Indonesia. Sedangkan menurutnya, bahasa Inggris cuma bahasa. Tidak lebih.

“Kalau jawaban pendeknya, saya ingin menunjukkan cerita yang terjadi di film ini tidak terjadi di Indonesia,” kata Joko Anwar, Selasa 17 April 2012.

Modus Anomali memang tidak seperti terjadi di Indonesia. Hutan yang dijadikan tempat syuting ditumbuhi pohon cemara dan pinus. Bahkan ada tempat peristirahatan atau cottage di sana. Pemandangan yang tak lazim di hutan Indonesia.

Untuk menambah kesan tegang, Joko Anwar tidak menggunakan kamera dengan crane atau rel. Di Modus Anomali, kamera dipanggul langsung oleh Gunnar Nimpuno sebagai kameramen. Sepanjang syuting, Gunnar terus berlari mengikuti arah gerakan Rio. Bahkan perekam suara, Yusuf Andi Patawari, sempat tersuruk ke parit karena mengejar Rio.

“Pergerakan kamera dibuat aksi-reaksi dengan si pemain agar adegan terlihat seperti sungguhan,” kata Joko.
Memang pergerakan kamera membuat penonton merasa ikut mengejar Rio. Terlibat secara emosi dalam tiap adegan. Tapi gambar yang terus bergerak selama 87 menit membuat mata sepet juga.

Pergerakan kamera tidak hanya mengikuti Rio saja. Terkadang, tiba-tiba kamera bergerak sendiri, mendekati Rio. Membuat penonton berpikir ada seseorang yang menghampiri aktor utama itu. Terkadang, ada suara music yang mendadak masuk pada sebuah adegan. Lagi-lagi menjadikan penonton mengira akan nada sesuatu yang terjadi. Adegan-adegan dalam Modus Anomali, rasanya seperti percampuran antara The Artist, Saw, dan The Ring.

Duk, duk, duk, croot! Begitulah satu suara yang terdengar dalam Modus Anomali. Tanpa melihat secara langsung apa yang tengah terjadi, suara itu sudah menggambarkannya. Membuat penonton bermain dengan imajinasi masing-masing. Mengerikan!

Kata Joko Anwar, musik di Modus Anomali tidak menggunakan instrumen biasa. Para peracik musik rekam suara-suara dari pendingin ruangan, mesin kopi, atau air pembuangan di toilet. “Setelah dikumpulkan, semua suara dimix menjadinya seperti itu,” ujarnya.

Kalau dicari perbandingannya dengan film lokal, sepertinya belum ada yang menyentuh genre thriller psikologi layaknya Modus Anomali. Bisa dikatakan Joko Anwar telah membuat aliran baru dalam perfilman Indonesia. Kalaupun mau disandingkan dengan The Raid, tidaklah bisa. Karena The Raid sebuah film aksi tanpa teka-teki dan permainan psikologi.

Kalau Anda suka film yang penuh ketegangan dan penuh tebak-tebakan, ada baiknya memasukan film Joko Anwar ke adenga menonton di pekan. Sebab Modus Anomali akan mulai main pada 26 April 2012.

Modus Anomali berarti kejiwaan yang tidak biasa. Bisa jadi ini sisi gelap sang sutradara, Joko Anwar, sehingga terbersit membuat film yang tidak biasa.

Modus Anomali
Genre: Thriller psikologi
Sutradara: Joko Anwar
Penulis naskah: Joko Anwar
Produser: Sheila Timothy
Pemain: Rio Dewanto, Hannah Al Rashid, Marsha Timothy, Surya Saputra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s