Resensi Buku: Hari Terakhir Kartosoewirjo

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, sang imam DI/TII bukan besar di lingkungan pesantren. Dia semasa kecil menempuh pendidikan kolonial Belanda. Hak istimewa ini diperolehnya karena posisi ayahnya yang merupakan mantri pada kantor yang bertugas melakukan koordinasi penjualan candu. Seperti dikutip dari buku Fadli Zon, ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’, Jumat (7/9/2012) dituliskan Kartosoewirjo lahir pada Selasa kliwon, 7 Februari 1905, di Kota Cepu, perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Karena posisi penting ayahnya ini, Kartosoewirjo termasuk salah satu anak negeri uang berkesempatan mengenyam pendidikan modern kolonial Belanda,” tulis Fadli Zon. Saat itu, sekitar tahun 1910, Indonesia atau Hindia Belanda tengah hangat dengan munculnya organisasi pergerakan, yang sebagian besar masih bersifat kedaerahan. Saat itu, tulis Fadli dalam bukunya, sebagai anak mantri atau setingkat sekretaris distrik, Kartosoewirjo bisa mengenyam pendidikan sekolah Inlandsche School der Tweede Klasse atau sekolah bumiputera kelas dua. Tamat dari sekolah itu, Kartosoewirjo melanjutkan ke HIS (Hollandsch Inlandsche School), setelah itu Kartosoewirjo melanjutkan ke ELS (Europeesche Lagere School).

“Untuk orang Indonesia, sekolah HIS dan ELS merupakan sekolah elite, hanya anak Eropa dan Indo yang bisa masuk, serta sekelompok anak bumiputera yang berstatus sosial tinggi, cerdas, dan berbakat,” tulis Fadli. Pada usia 18 tahun, pada 1923, Kartosoewirjo menjadi mahasiswa sekolah dokter Hindia Belanda di Surabaya. Nah, di masa itulah cikal bakal bakat sebagai organisatorisnya mulai muncul. Di Kota Surabaya, Kartosoewirjo menjadi anggota Jong Java cabang Surabaya, dan bahkan kemudian menjadi ketua cabang. Hingga pada 1925 dia bergabung dengan Jong Islamieten Bond di bawah pimpinan Wiwoho, “Selama di Surabaya, Kartosoewirjo bersama para pemuda lain berkenalan dengan banyak ideologi atau haluan politik dan bentuk perjuangan semuanya mengambil konsep-konsep modern dari Barat,” tulis Fadli lagi.

Pada 1927, Kartosoewirjo dikeluarkan dari sekolah kedokteran tersebut. Seperti ditulis Fadli Zon, Kartosoewirjo diangga terlibat gerakan politik. Salah satunya, pihak sekolah menemukan bukti bahwa Kartosoewirjo memiliki buku komunisme dan sosialisme. Buku itu didapat dari pamannya Mas Marco Kartodikromo. Hingga akhirnya, perjalanan politik sesungguhnya Kartosoewirjo dimulai ketika dia berkenalan dengan Tjokroaminoto, yang dikenal sebagai pimpinan Syarikat Islam yang sangat berpengaruh di Jawa.

Di zamannya, Tjokroaminoto merupakan panutan anak muda saat itu. Mulai dari Soekarno, Semaun, hingga Kartosoewirjo berguru kepadanya. Pemimpin Syarikat Islam, organisasi terbesar saat itu pun banyak menelurkan tokoh-tokoh besar di Indonesia. Fadli Zon dalam buku ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’ seperti dikutip detikcom, Jumat (7/9/2012) menulis Tjokroaminoto saat itu disebut Belanda sebagai ‘Raja Jawa Tanpa Mahkota’.

Kartosoewirjo yang kemudian menjadi imam DI/TII, memulai kariernya dengan menjadi sekretaris pribadi Tjokroaminoto sekitar tahun 1927. Kartosoewirjo sering menemani perjalanan politik Kartosoewirjo keliling Jawa. “Tjokroaminoto adalah guru politik dan mentor Islamisme Kartosoewirjo,” tulis Fadli Zon. Pada 1929, Kartosoewirjo berhenti karena sakit. Dia pun pindah dan tinggal bersama mertuanya di Malangbong, Garut. Kartosoewirjo sudah menikah dengan Dewi Siti Kalsum, yang juga putra tokoh PSII Ardiwisastra.

Kemudian, Kartosoewirjo pun belajar agama kepada Notodiharjo, tokoh Islam modern. Dia juga belajar pada sejumlah ulama di Bandung dan Tasikmalaya. “Ia juga belajar agama Islam dari buku-buku asing, dan mendalami Alquran dan hadist dari kitab berbahasa Belanda,” tulis Fadli.

Selama aktif di pergerakan Islam, seperti koleganya Soekarno, Kartosoewirjo pun kerap mengenyam dinginnya sel penjara. Kartosoewirjo juga pernah menjadi sekretaris umum PSII, kemudian pimpinan koran harian Fadjar Asia. Saat Jepang masuk Indonesia, Kartosoewirjo juga aktif dalam MIAI (Madjlis Islam ‘Alaa Indonesia). Di organisasi itu, Kartosoewirjo memberikan pendidikan pelatihan kemiliteran. “Lulusan pelatihan itu banyak yang akhirnya memasuki organisasi gerilya Islam, seperti Hizbullah dan Sabilillah yang kemudian menjadi Tentara Islam Indonesia,” tulis Fadli.

Hingga kemudian setelah Perjanjian Renville, Kartosoewirjo bersama pasukan Tentara Islam Indonesia yang di bawah komandonya memutuskan memisahkan diri. Pada 1949 dia pun memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia. Saat itu Jawa Barat memang tengah ditinggalkan TNI sesuai isi perjanjian Renville, merujuk kepada perjanjian Linggarjati, wilayah Indonesia hanya Jawa, Sumatera, dan Madura.

Lewat foto-foto di buku Fadli Zon, ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’, terpapar bukti bahwa sang imam DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dimakamkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu. Lokasi yang juga tempat eksekusi itu kini menjadi tujuan keluarga untuk berziarah. “Kita rencanakan, harus musyawarah bagaimana ziarah ke Pulau Ubi,” jelas putra Kartosoewirjo, Sardjono Kartosoewirjo, saat berbincang, Kamis (6/9/2012).

Selama ini banyak orang menyangka makam Kartosoewirjo yang dieksekusi pada September 1962 berada di Pulau Onrust. Memang sempat tersiar kabar, bahwa makam yang berada di Pulau Onrust, merupakan pindahan dari Pulau Ubi. Namun kabar itu pun belum jelas. “Yang di Pulau onrust kita belum tahu, mungkin saja sudah dibongkar yang di Ubi, dan dipindah ke Onrust. Tapi kan harus dibuktikan forensik. Kita saja belum lihat makam di Ubi, masih ada atau enggak,” jelasnya.

Kartosoewirjo ditangkap pada Juni 1962 di Gunung Geber, Majalaya. Dia dieksekusi pada September 1962. Berdasarkan foto-foto yang didapat Fadli Zon dari seorang kolektor, diketahui lokasi pemakaman Kartosoewirjo berada di Pulau Ubi, dengan sebuah pohon menjadi penanda. Kisah mistis tak lepas dari sosok Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang juga imam DI/TII. Bahkan ada pengikutnya yang meyakini sosok Kartosoewirjo sebagai satria piningit. Apalagi, Kartosoewirjo memang dikenal memiliki sejumlah senjata yang banyak disebut orang bertuah.

“Orang-orang yang bilang bapak terkait mistik, itu pemahaman keliru,” sanggah putra Kartosoewirjo, Sardjono Kartosoewirjo saat berbincang dengan detikcom, Kamis (6/9/2012). Sardjono menegaskan ayahnya manusia biasa. Tak terkait mistik ataupun hal yang berbau takhyul. Namun, dia menuturkan ayahnya itu memang memiliki keris yang dikenal dengan nama Ki Dongkol dan pedang yang diberi nama Ki Rompang. Walau orang banyak menyebut senjata itu sebagai ajimat, Sartono tetap yakin benda-benda itu semata hanya senjata biasa, dan merupakan pemberian orang.

“Keris itu sudah disita tanggal 6 Juni 1962. Benda itu perkakas perang saja, keris itu pemberian. Dulu dapatnya dari tukar menukar cinderamata. Saya enggak tahu siapa yang ngasih, tapi Bapak enggak pernah ngoleksi benda-benda,” jelas Sardjono memberi penegasan. Soal pedang yang disebut sebagai Ki Rompang, yang dia tahu benda itu juga pemberian. Pedang itu sebagai senjata untuk perang dan diberi seseorang sebagai hadiah. Bukan terkait jimat atau mistik.

“Pedang itu juga disita, dulu ada di musium Siliwangi Bandung, tapi enggak tahu apa itu asli atau duplikasi,” tutur Sardjono. Soal keris dan pedang, memang sempat menjadi cerita di masyarakat kala itu. Kartosoewirjo dianggap kebal dan terlindungi dari kejaran tentara. Sartono kembali menegaskan lewat foto-foto yang dipublikasikan di buku Fadli Zon ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’ terpapar bukti ayahnya manusia biasa.

“Dengan foto-foto kemarin dibuktikan, mistik itu enggak ada. Kepercayaan itu sesuatu yang sesat. Karena bapak juga tidak kebal saat ditembak,” jelas Sardjono. Rolex dikenal sebagai jam tangan mewah. Hanya kalangan atas saja yang bisa memakainya. Tapi siapa sangka kalau imam DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo penyuka Rolex. Saat ditangkap di Gunung Geber, Majalaya, jam tangan Rolex ada pada dirinya. Seperti dituliskan dalam buku Fadli Zon ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’, salah satu yang diserahkan Kartosoewirjo untuk dikembalikan ke keluarga adalah jam tangan Rolex. Kabarnya setelah dikembalikan ke keluarga, jam tangan itu hilang dicuri.

Berbicara soal Rolex yang dikenakan Kartosoewirjo, sang anak Sardjono angkat bicara. Jam tangan seperti itu, di masa ayahnya, umum dipakai seorang pemimpin. Jadi hal yang biasa. “Itu jam prosedur standar, untuk pemimpin saat itu,” kata Sardjono Kartosoewirjo saat berbincang dengan detikcom, Kamis (6/9/2012). Soal Rolex itu pun, Sardjono mengaku tidak tahu asal muasalnya. Entah diberi seseorang atau membeli sendiri. Dia hanya tahu, ayahnya sudah memakai jam tangan itu. “Saya enggak tahu dari mana. Enggak ada cerita di keluarga. Pemimpin yang lain juga pakai itu,” jelas Sardjono.

Kartosoewirjo ditangkap pada Juni 1962. Saat ditangkap, seperti ditulis Fadli Zon, kondisi Kartosoewirjo mengenaskan. Pria yang memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada 1949 itu dalam kondisi kekurangan makan dan kurus. Kartosoewirjo dieksekusi mati pada September 1962 di Pulau Ubi. Dia pun dimakamkan di pulau yang berada di gugusan Kepulauan Seribu itu. Pemimpin DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo tewas di tangan regu tembak di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu. Foto-foto yang dimuat di buku Fadli Zon berjudul ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’ membuka selubung misteri mengenai kematian pria yang memproklamirkan negara Islam Indonesia ini.

Jauh sebelum foto ini terungkap ke publik, berbagai informasi soal kematian Kartosoewirjo memang simpang siur. Saat itu sekitar tahun 1962, sudah jelas Kartosoewirjo ditangkap di Gunung Geber, Majalaya oleh TNI. Namun ada saja berkembang di masyarakat soal cerita sosok Kartosoewirjo yang masih hidup. Ada yang mengaku melihat Kartosoewirjo di daerah A, atau daerah B. Maklum saja, Kartosoewirjo dikenal pengikutnya sebagai Imam Mahdi atau Ratu Adil. Bukan soal cerita yang masih hidup, lokasi kuburan Kartosoewirjo pun tak jelas. Banyak yang meyakini bahwa kuburan Kartosoewirjo di Pulau Onrust.

Seperti dikutip detikcom dari buku Fadli Zon, Kamis (6/9/2012), lewat foto-foto itu, tampak jelas bahwa Kartosoewirjo tewas di tangan regu tembak dan dimakamkan di Pulau Ubi. Lebih dari soal itu, ada yang menarik bila melihat foto-foto yang ditampilkan di buku itu. Menjelang eksekusi Kartosoewirjo berpakaian putih-putih. Menjelang kapal berlabuh di lokasi eksekusi pun, celana hitam Kartosoewirjo diganti menjadi celana putih.

Bukan hanya itu saja, bila diperhatikan dalam rangkaian foto-foto, terlihat tutup mata yang dipakai pun berwarna putih. Padahal biasanya, tutup mata yang dipakai dalam eksekusi berwarna hitam. Tapi, peci hitam tak lepas dari kepalanya. Apa makna warna putih itu? Mungkin saja hal itu bermakna putih adalah bersih. Mungkin saja itu permintaan Kartosoewirjo. Tapi sayangnya tak ada penjelasan dalam foto itu. Hanya disebutkan saja, Kartosoewirjo berganti pakaian dengan yang berwarna putih.

Pemimpin DI/TII Kartosoewirjo yang kerap dipanggil ‘sang imam’ oleh pengikutnya dieksekusi regu tembak di Pulau Ubi di Kepulauan Seribu. Lewat buku Fadli Zon berjudul ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’ yang memuat foto ekslusif detik-detik pelaksanaan eksekusi.

Fadli mengaku memperoleh foto-foto itu dari seorang kolektor 2 tahun lalu. Hingga kemudian pada Rabu (5/9), Fadli Zon yang concern dengan sejarah Indonesia ini berani meluncurkan buku untuk meluruskan sejarah. Bukan apa-apa, selama ini isu soal Kartosoewirjo selalu simpang siur. Mulai dari perlakuan yang tak pantas saat eksekusi hingga lokasi penguburan yang tidak jelas. Melalui buku yang gamblang menampilkan 81 foto itu semua terjawab. Kartosoewirjo di kalangan pengikutnya memang memiliki banyak mitos. Bahkan ada yang menyebut dia sebagai Imam Mahdi. Kartosoewirjo memproklamirkan negara Islam Indonesia pada tahun 1949 di Tasikmalaya.

Cap makar dan pemberontak pun dialamatkan pada Kartosoewirjo, hingga akhirnya pada Juni 1962 dia ditangkap di Garut. Dalam pengadilan militer dia divonis hukuman mati. Grasi (permohonan yang juga pernyataan bersalah) yang diajukan ke Presiden Soekarno ditolak. Awal September 1962, Kartosoewirjo diekseskusi di Pulau Ubi. Berikut 13 momen, detik-detik Kartosoewirjo dieksekusi di Pulau Ubi yang dikutip dari buku Fadli Zon:

1. Menginjakkan kaki di Pulau ‘eksekusi’ Ubi
Setelah jamuan makan bersama dengan keluarga dan melakukan salat taubat, Kartosoewirjo digiring menuju Pulau Ubi. Dengan tangan di borgol dia dibawa ke kapal. Sebelumnya tim dokter memeriksa kesehatan Kartosoewirjo. Seorang rohaniawan dari TNI pun selalu mendampingi. Sesaat sebelum kapal merapat ke Pulau Ubi, Kartosoewirjo diminta berganti pakaian dengan baju putih-putih. Matanya pun ditutup dengan sehelai kain putih. Dipandu polisi militer, Kartosoewirjo berjalan keluar kapal menginjakkan kaki di Pulau Ubi.

2. Menuju tiang eksekusi
Peci hitam, kemeja dan celana putih dikenakan Kartosoewirjo saat melangkah menuju tempat eksekusi. Mata sang imam DI/TII itu pun ditutup dengan kain putih. Dua petugas memapahnya menuju tiang eksekusi, sebilah kayu yang terpancang di atas tanah Pulau Ubi. Tangan Kartosoewirjo tak diborgol. Dia dikelilingi petugas bersenjata saat berjalan menuju tiang eksekusi. Tak ada perbincangan dalam perjalanan singkat itu.

3. Diikat ke tiang eksekusi
Kartosoewirjo tampak pasrah diikat ke tiang eksekusi. Begitu tiba di lokasi ekseksusi, dia langsung diikat dengan tangan di belakang dan tubuh bagian muka menghadap ke regu tembak. Seorang rohaniawan dari TNI terus mendampingi Kartosoewirjo, membantunya berdoa. Sedang beberapa tentara memastikan bahwa ikatan dilakukan dengan kuat. Ketika semua sudah siap, regu tembak mengambil posisi.

4. Berdoa sebelum regu tembak beraksi
Doa dipanjatkan Kartosoewirjo menjelang pelaksanaan eksekusi. Sang rohaniawan yang menemaninya sejak di kapal terus membimbingnya, membantu Kartosoewirjo melafalkan doa. Selama beberapa saat sebelum pelaksanaan eksekusi, Kartosoewirjo diberi kesempatan berdoa. Sedang regu tembak terus mempersiapkan diri. Ada 12 anggota regu tembak yang siap melaksanakan eksekusi.

5. Regu tembak bersiap eksekusi Kartosoewirjo
12 Anggota regu tembak bersiap melaksanakan perintah eksekusi. Oditur militer sudah menerima laporan komandan regu tembak. Kartosoewirjo sudah berdiri sendiri di tiang eksekusi. Oditur militer dan komandan regu tembak memeriksa barisan. Regu tembak yang bersenjata lengkap dan mengenakan helm perang dalam posisi siaga. Pelaksanaan eksekusi tinggal menunggu waktu.

6. Regu tembak mengokang senjata membidik Kartosoewirjo
Pemeriksaan barisan regu tembak yang dilakukan oditur militer selesai. 12 Anggota regu tembak pun bersiap mengokang senjata. Tak ada yang tahu, di pistol mana peluru berada. Kartosoewirjo pun sudah siap di tiang eksekusi. Tak ada gerakan lagi dari Kartosoewirjo. Dia hanya menunggu peluru menembus tubuhnya. Rohaniawan dan sejumlah tentara menyaksikan dari pingggir. Mereka memperhatikan jalannya eksekusi.

7. Kartosoewirjo terkulai, 5 peluru menembus dadanya
Dalam hitungan detik eksekusi selesai dilaksanakan. 5 Peluru menembus dada kiri Kartosoewirjo. Sang imam terkulai lemah. Tampak jelas 5 lubang di baju kiri di bagian dada Kartosoewirjo Oditur militer kemudian berbicara pada komandan regu tembak. Harus dipastikan bahwa Kartosoewirjo benar-benar sudah meninggal. Sang komandan pun kemudian menyiapkan pistolnya untuk eksekusi terakhir Kartosoewirjo.

8. Peluru terakhir untuk Kartosoewirjo
Peluru terakhir diletuskan komandan regu tembak untuk Kartosoewirjo. Penembakan terakhir yang dilakukan sang komandan memang merupakan tahapan prosedur guna memastikan terpidana yang dieksekusi tidak menderita. Komandan regu tembak itu, sesuai prosedur melalui perintah oditur militer. Pistol dia pun dicek lebih dahulu. Selesai diperiksa, dengan pistol di tangan sang komandan melangkah mendekati tiang eksekusi untuk mengambil tembakan terakhir.

9. Tim dokter cek tanda kehidupan di tubuh Kartosoewirjo
Usai peluru terakhir disarangkan, tim dokter kembali melakukan pengecekan memastikan terpidana benar-benar sudah meninggal dunia. Tampak darah menetes dari dada Kartosoewirjo yang sudah tak bernyawa.Dokter memastikan Kartosoewirjo meninggal dunia dengan peluru mengenai jantung. Jasad Kartosoewirjo pun dilepaskan dari tiang eksekusi dibawa menuju ke tempat pemandian.

10. Dilepaskan dari tiang eksekusi
Sejumlah anggota TNI menyiapkan tandu untuk menggotong tubuh tak bernyawa Kartosoewirjo. Sesuai ajaran islam, jenazah sebelum dikubur dimandikan lebih dahulu. Tak ada air tawar di Pulau Ubi, maka air laut pun digunakan. Dipandu rohaniawan dari TNI, jenazah dimandikan sesuai aturan Islam. Usai dimandikan, petugas kemudian mengkafani dengan kain putih jasad Kartosoewirjo. Semua dilakukan sesuai aturan Islam.

11. Salat jenazah
Salat jenazah digelar rohaniawan dari TNI. 3 Orang menjadi makmumnya. Mereka menyalati Kartosoewirjo yang sudah dibungkus kafan dan diletakkkan di atas tandu. Kartosoewirjo dieksekusi di Pulau Ubi dan dimakamkan di pulau itu juga. Foto-foto yang diungkap Fadli Zon dalam bukunya ini yang meluruskan sejarah, dahulu orang percaya bahwa Kartosoewirjo dikubur di Pulau Onrust. Kini terpapar bukti, Pulau Ubi menjadi lokasi penguburan Kartosoewirjo

12. Kuburan tak bernisan di bawah pohon di Pulau Ubi
Usai salat jenazah, Kartosoewirjo dikuburkan di bawah pohon di Pulau Ubi. Tak ada nisan di kuburan itu. Hanya pohon yang menjadi penanda. Kuburan digali sedalam 1 meter. Usai jasad diletakkan menghadap kiblat, papan kemudian menjadi penutup lubang. Usai dikuburkan, sejumlah petugas berdoa di depan kuburan Kartosoewirjo. Doa dipanjatkan untuk imam DI/TII yang tewas dieksekusi atas pidana makar.

13. Tiang eksekusi dibakar
Usai penguburan, tim regu tembak dan seluruh petugas meninggalkan Pulau Ubi. Namun sebelumnya, tiang eksekusi dibakar dan juga sejumlah perlengkapan lain. Ketika semua prosesi selesai, semua petugas bergerak kembali ke kapal. Pulau Ubi pun ditinggalkan, kapal berlayar kembali ke Jakarta.

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo ditangkap di Gunung Geber, Majalaya pada Juni 1962. Pasukan TNI dari Divisi Siliwangi kemudian menahannya untuk diadili. Mahkamah Militer memvonisnya hukuman mati atas tuduhan makar.

Seperti dituliskan dalam buku Fadli Zon, ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’ seperti dikutip detikcom, Jumat (7/9/2012), sang terpidana meminta agar bisa bertemu keluarganya sebelum dieksekusi. September 1962, istri Kartosoewirjo, Dewi Siti Kalsum, dan lima orang anaknya yakni Tahmid Basuki Rahmat, Dodo Mohammad Darda, Kartika, Komalasari, dan Danti, berkumpul bersama Kartosoewirjo mengadakan jamuan makan bersama terakhir kalinya. Nasi dan rendang menjadi santapan. Dalam buku Fadli Zon yang akan beredar di toko buku mulai pekan mendatang itu, terpapar sejumlah rangkaian foto saat terakhir Kartosoewirjo bersama keluarga. Kartosoewirjo juga tampak memberikan petuah untuk istri dan anak-anaknya.

Berikut 5 momen saat terakhir Kartosoewirjo di tengah keluarga seperti dinukil dari buku Fadli Zon:

1. Bertemu keluarga
Salah satu permintaan Kartosoewirjo kepada Mahkamah Militer adalah bertemu keluarga. Mahkamah pun mengabulkan permintaan itu. Istri dan anak Kartosoewirjo dipanggil bertemu dengan sang imam DI/TII terakhir kalinya. Kartosoewirjo dalam foto tampak santai. Tak ada cemas di wajahnya, dia terlihat tenang. Sebatang rokok juga terlihat di tangannya. Sedang sang istri yang datang bersama 5 anaknya pun terlihat menikmati pertemuan itu. Terlihat selendang putih melingkar di bahu sang istri. Anak-anaknya tampak memperhatikan sang ayah yang sebentar lagi akan dieksekusi.

2. Makan nasi rendang
Pertemuan yang dilakukan siang itu, antara Kartosoewirjo dan keluarga diisi dengan santap siang bersama. Pihak TNI memberikan nasi dan rendang untuk dimakan. Keluarga Kartosoewirjo pun menikmati santapan itu dengan lahap, bahkan sang istri disebutkan sampai kepedasan karena tak terbiasa menyantap rendang. Tapi, dalam foto itu disebutkan, Kartosoewirjo sama sekali tidak makan nasi dan rendang itu. Dia tidak mau makan. Dia hanya minum, menikmati rokok, dan memperhatikan keluarganya yang menyantap makan siang. Kartosoewirjo pun terkadang menengahi dengan candaan-candaan ringan. Sang istri kadang tersenyum, sedang anak-anaknya memperhatikan dengan serius.

3. Minum kopi dan merokok
Kartosoewirjo entah karena alasan apa, menolak makan. Nasi dan rendang yang diberikan oditur militer tak disentuhnya. Namun dia menikmati momen bersama keluarga itu. Hanya kopi dan rokok yang dia minta. Sambil melihat keluarganya menyantap makanan, Kartosoewirjo pun berbagi cerita dan senda gurau. Waktu terus berlalu, detik-detik jelang eksekusi semakin dekat. Sang istri dan juga Kartosoewirjo tampak santai. Raut wajah mereka tidak memperlihatkan ketegangan. Bahkan di foto terlihat senyum keduanya.

4. Petuah terakhir
Selesai bersantap siang dan berbincang dengan keluarga, pihak oditur militer memberikan kesempatan kepada Kartosoewirjo memberikan pesan terakhir. Sempat berpikir sejenak, akhirnya Kartosoewirjo memberikan wasiat terakhir kepada istri dan anak-anaknya. Putra Kartosoewirjo, Sardjono yang saat itu tidak hadir karena masih kecil, namun diceritakan kakaknya, salah satu pesan sang ayah adalah agar agar anak-anaknya menjadi mujahidin dan muslim yang baik, serta menjaga ibu mereka. Seluruh keluarga mendengarkan dengan seksama petuah yang disampaikan sang ayah. Seorang anak Kartosoewirjo tampak menulis di sebuah kertas pesan-pesan dari ayahnya itu.

5. Salam perpisahan dan foto bersama keluarga
Keluarga Kartosoewirjo akhirnya harus berpisah dengan sang ayah. Mereka pun menyempatkan diri berfoto bersama. Salam perpisahan dan pelukan sayang sudah dilakukan. Air mata juga tumpah dalam perpisahan terakhir sebelum eksekusi. Keluarga Kartosoewirjo sudah siap dengan eksekusi yang akan dijalani sang ayah. Pihak militer memang tidak memperkenankan salah satu anggota keluarga untuk ikut ke tempat eksekusi. Saat berpisah tiba, keluarga pun meninggalkan Kartosoewirjo, setelah jamuan terakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s