Sekolah Internasional Harus Ikuti Aturan Mendikbud Untuk Cegah Sekolah Jadi Sarang Paedofilia

Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Lidya Freyani Hawadi meminta semua sekolah berlebel internasional mematuhi berbagai aturan yang berlaku di Indonesia menyusul terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 31 tahun 2014.

Permendikbud itu berisi tentang Kerja Sama Penyelenggaraan dan Pengelolaan Pendidikan oleh Lembaga Pendidikan Asing dengan Lembaga Pendidikan Indonesia. Salah satu diantaranya adalah menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan yang setara di luar negeri yang terakreditasi A.

“Permendikbud tersebut terbit 23 April lalu dan saya minta semua sekolah yang menggunakan label internasional segera menyesuaikan diri,” kata Lidya, kemarin.

Selain kerjasama dengan lembaga pendidikan diluar negeri, setiap sekolah internasional harus mendaftarkan semua tenaga pendidiknya yang berasal dari luar negeri ke Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) dan Kemdikbud. Sesuai dengan UU Kemenakertrans tenaga kerja asing tersebut harus menguasai Bahasa Indonesia.

“Pendidikan guru asing juga harus sesuai dengan bidang studi yang diajarnya,” tambah dia. Tak hanya dari segi guru, semua anak-anak Indonesia yang sekolah di sekolah internasional harus terdaftar di direktorat terkait di Kemdikbud. Mereka harus tetap mendapatkan empat mata pelajaran wajib, yakni agama, Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaran, dan sejarah.

“Sedangkan siswa asing harus diberi pelajaran mengenai budaya,” tukasnya. Kurikulum sekolah tersebut juga sesuai dengan standar nasional. Dan dari segi kepemilikan sekolah , pemerintah tidak membolehkan asing memiliki sepenuhnya. Pihak asing hanya boleh memiliki saham maksimal 49 persen.

“Kalau tidak memenuhi syarat, mereka harus mengganti namanya, dan meninggalkan label internasional,” pungkas Lidya. Jika tidak dipatuhi, maka akan dikenai denda maksimal Rp1 miliar dan kurungan maksimal 10 tahun penjara. Hal itu berdasarkan Pasal 71 UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Menyusul kasus pelecehan seksual yang terjadi di Jakarta International School (JIS), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan mengaudit seluruh sekolah-sekolah dengan label internasional.Pasalnya jumlah sekolah berlabel internasional di Indonesia cukup banyak. Data Kemendikbud 2014 tercatat ada 114 sekolah internasional mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA.

“Kita akan cek apakah internasional itu hanya labelnyaa saja atau memang benar-benar internasional murni. Atau hanya eks sekolah-sekolah RSBI,” papar Mendikbud Muhammad Nuh, Jumat (25/4). Diakui, audit tersebut penting agar Kemendikbud bisa memberikan perlindungan lebih baik kepada siswa yang bersekolah di sekolah-sekolah internasional.

Nuh menjelaskan sekolah internasional pada prinsipnya ada dua macam. Yakni sekolah internasional korps diplomatik yang siswanya secara keseluruhan merupakan warga negara asing dan sekolah luar negeri yang bekerjasama dengan sekolah lokal.Terkait kasus pelecehan seksual yang terjadi di JIS, Mendikbud mengakui bahwa kasus tersebut adalah tamparan yang amat menyakitkan dunia pendidikan kita.

“Kisruh percetakan soal UN tahun 2013 hanya menyangkut tehnical management. Tetapi kasus JIS sudah menyangkut nilaia-nilai kemanusiaan. Jadi substansinya jauh lebih berat,” kata Nuh. Sebab pelecehan seksual memberikan efek yang sangat berbahaya bagi anak yang menjadi korban. Baik trauma psikis maupun fisik yang akan berpengaruh pada kondisi masa depannya. Karena itu Kemendikbud sudah melakukan koordinasi langsung dengan Kapolri untuk menuntaskan kasus tersebut.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akhirnya menutup sementara operasional Taman kanak-kanak (TK) Jakarta International School (JIS) menyusul kasus kekerasan seksual yang menimpa siswa sekolah tersebut Maret lalu.
Ketua tim investigasi Kemendikbud Lydia Freyani Hawadi mengatakan, TK JIS sejak beroperasi lima tahun lalu belum mengantongi ijin Kemendikbud. “Ijin baru ada untuk SD dan SMP, Sedang untuk TK belum ada,” papar Lydia yang juga Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Usia Dini Non-Formal dan Informal (PAUDNI) Kemendikbud, kemarin.

Ia mengaku sudah memperingatkan pengelola JIS untuk segera mengurus perijinan. Terakhir peringatan dilayangkan pada Januari 2014.

“Seiring mencuatnya kasus kekerasan seksual yang menimpa siswa sekolah tersebut, tim sebenarnya sudah memberikan waktu seminggu untuk segera mengurus ijin, Tetapi sementara waktu JIS nggak boleh terima siswa,” papar Lydia.

Ia menduga kasus kekerasan seksual yang terjadi di JIS sudah terjadi bertahun-tahun. Dugaan tersebut berdasarkan hasil investigasi tim Kemendikbud saat dilakukan pertemuan dengan para orang tua murid. “Ada orang tua yang mengaku anaknya pernah mengalami kejadian yang serupa dengan kasus kekerasan yang ditemukan pada Maret 2014,” jelas Lydia.
Menurut Lydia banyak orang tua yang lebih memilih diam dan hanya berkomunikasi dengan pihak sekolah melalui e-mail. Tetapi pada akhirnya ada juga orangtua yang memiliki sikap berbeda, yakni memilih melaporkan kasus tersebut kepada kepolisian.

“Orangtua AK, bocah yang mengalami kekerasan seksual memilih untuk melaporkan kasus ini,” tukas Lydia.

Sebelumnya, dalam rapat dengan tim investigasi Kemendikbud, Kepala Sekolah JIS Tim Carr menyatakan turut prihatin atas kejadian yang menimpa siswanya. “Fokus utama kami adalah untuk kesejahteraan siswa dan keluarganya serta keamanan dan keselamatan dari komunitas sekolah,” ujar Carr. Ia berjanji akan berkoordinasi dengan Kemendikbud untuk menyelesaikan kasus tersebut.

Kasus kekerasan seksual menimpa siswa TK JIS pada Maret 2014. Kasus sodomi yang terjadi di toilet sekolah tersebut menyeret dua petugas kebersihan JIS sebagai tersangka dan kini sudah ditahan di Polda Metro Jaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s