Kisah Raini Anak Tukang Becak Yang Lulus Cum Laude dan Teruskan Pendidikan S2 Ke Inggris

Raini, wisudawati Universitas Negeri Semarang yang meraih predikat cum laude dengan IPK 3,96, akan diberikan beasiswa kuliah S2 di luar negeri. Mahasiswa berprestasi itu adalah anak tukang becak dengan penghasilan Rp 10 ribu per hari. “Beasiswa itu kami upayakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tapi, kalau pemerintah tidak bisa, kami yang akan siapkan,” kata Rektor Universitas Negeri Semarang Fathur Rokhman saat dihubungi.

Dalam menentukan beasiswa itu, ujar Fathur, Raini yang akan memilih sendiri perguruan tinggi dan negara yang diminati. Menurut dia, Raini berkeinginan melanjutkan S2 di Inggris dengan jurusan akuntansi, seperti yang diambilnya di Universitas Negeri Semarang. Setelah lulus S2, Raini diharapkan bisa mengajar di perguruan tinggi tempat ia mengenyam pendidikan S1.

Raini merupakan angkatan pertama dari program Bidikmisi yang berjalan sejak 2010. Total mahasiswa program Bidikmisi di universitas itu mencapai 5.450 orang. Di kampusnya, Raini tak hanya dikenal berprestasi dalam bidang akademik, tapi juga aktif dalam kegiatan mahasiswa.

“Raini aktif di BEM, UKM bidang riset, dan sering menang lomba karya tulis ilmiah,” tuturnya. Raeni, wisudawati Universitas Negeri Semarang, datang ke lokasi acara wisuda dengan menggunakan becak yang dikendarai oleh ayahnya, Mugiyono, Selasa, 10 Juni 2014. Kedatangan Raeni menjadi perhatian seluruh peserta wisudawan dan para keluarga. Maklum, Raeni, mahasiswa jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) ini, lulus dengan predikat cum laude terbaik nyaris sempurna, yakni 3,96.

Meski diantar becak, Raeni tidak malu. Mugiyono memang setiap hari mencari nafkah dengan menjadi tukang becak. Dia mangkal di Kelurahan Langenharjo, Kendal, tak jauh dari rumahnya. Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Dia juga mencari sambilan dengan bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450 ribu per bulan. “Penghasilan tukang becak tak menentu. Sekitar Rp 10 ribu–Rp 50 ribu,” ujar Mugiyono, seperti dikutip di situs resmi Universitas Negeri Semarang, unnes.ac.id, Rabu, 11 Juni 2014.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96.

“Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Penginnya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut. Tentu saja cita-cita itu didukung ayahandanya. Ia mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah agar bisa menjadi guru sesuai cita-citanya.

“Sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu. Rektor Universitas Negeri Semarang Fathur Rokhman mengatakan apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26 persen dari jumlah kursi yang dimilikinya untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” katanya.

Ia bahkan yakin tak lama lagi akan terjadi kebangkitan kaum dhuafa. “Anak-anak dari keluarga miskin akan segera tampil menjadi kaum terpelajar baru. Mereka akan tampil sebagai eksekutif, intelektual, pengusaha, bahkan pemimpin Republik ini,” katanya. Harapan itu terasa realistis karena jumlah penerima Bidikmisi lebih dari 50.000 per tahun. Unnes menyalurkan setidaknya 1.850 Bidikmisi setiap tahun.

Raeni, anak tukang becak yang menjadi wisudawan dengan IPK 3,96 di Univesitas Negeri Semarang, tidak pernah merasa kondisi ekonomi keluarganya menjadi penghalang. Sejujurnya, gadis kelahiran 13 Januari 1993 ini merasa risih jika keberhasilannya dikaitkan dengan keterbatasan ekonomi keluarganya. “Memangnya orang miskin tak boleh berprestasi?” tukasnya.

Meski demikian, Raeni berharap pengalamannya bisa menginspirasi orang lain. “Orang miskin tidak dilarang sukses kok,”ujarnya. Pada saat upacara wisuda, Raeni, yang datang dengan naik becak yang dikayuh ayahnya, memberikan pidato mewakili wisudawan.

Untuk menambah uang saku yang terbatas, Raeni menjadi asisten laboratorium ekonomi di kampusnya. Dia juga memberi kursus privat akutansi kepada siswa SMA dengan honor sukarela. Tiap sabtu dan Minggu ia memilih pulang ke Kendal dan mengajar mengaji di Taman Pendidikan al Quran di kampungnya. Sebagai bagian dari menjalankan prinsip efisien, gadis berjilbab ini hanya mengikuti organisasi intra kemahasiswaan yang menunjang akademik, antara lain Kelompok Studi Ekonomi Islam, Himpunan Mahasiswa Ekonomi, Komunitas Ilmiah Mahasiswa Ekonomi serta Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian. Di luar kampus, ia aktif di Ikatan Akuntan Indonesia dan Pramuka di Kendal.

Jika merasa suntuk, alumnus jurusan akuntansi SMK 1 Kendal ini memilih ke masjid Al Barokah tak jauh dari tempat kostnya untuk mengaji atau melantunkan maulid nabi. “Kalau ke mal boros juga kan?”. Ia juga tergabung dalam grup one day one juzz, grup yang ‘mewajibkan’ diri membaca al Quran minimal satu juzz setiap hari.

Setelah diberitakan sebagai wisudawan terbaik, peraih beberapa juara lomba karya ilmiah ini ditawari pekerjaan sebagai akuntan di salah satu perusahaan alat berat dan properti di Jakarta. Kendati memikirkan tawaran, Raeni sebenarnya bercita-cita menjadi guru atau dosen sambil mencari beasiswa kuliah ke luar negeri dan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

Dorongan menjadi pendidik, kata Raeni, sesuai dengan nasehat orang tuanya. “Ilmu akan menjadi berkah, jika ditularkan kepada yang lain,” ujarnya menirukan nasehat ayahnya. Pengalamannya menjadi pendidik akan dijadikannya sebagai proposal riset saat menempuh magister kelak. Kapan? “Insya Allah ada jalan.”

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Unnes, Sucipto Hadi Purnomo mengatakan, prestasi Raeni makin menyemangati Unnes sebagai universitas yang paling banyak menerima mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi secara nasional. “Dan sebagian besar mahasiswa Unnes penerima beasiswa Bidikmisi, prestasi akademiknya bagus,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s