Posted by: Helena Srimurti on: December 22, 2008
Kualitas buku teks pelajaran masih terbilang rendah. Buku pelajaran menyajikan materi yang terlalu padat dan penyajiannya kurang sesuai dengan pola pikir anak.
Hal itu terungkap dalam pemaparan hasil penelitian buku teks pelajaran sekolah dasar Kelas I dan V yang dilaksanakan oleh Institute of Education Reform (IER), Senin (22/12). Terdapat 17 buku pelajaran SD kelas I dan kelas V yang diteliti.
Direktur IER Utomo Dananjaya mengatakan, standar isi dan standar kompetensi lulus menjadi dasar penyusunan buku teks pelajaran. Semua buku pelajaran yang diteliti tersebut dibuka oleh daftar isi dengan substansi standar kompetensi kelulusan.
Setiap bab dimulai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran. Namun, pengembangannya menjadi buku teks pelajaran sangat bergantung kepada penalaran pengarang dalam menafsirkan kedalaman dan keluasan bahan pelajaran.
Pusat perhatian dari penelitian itu terutama menyangkut sisi bahasa dan kecenderungan metode. Mereka melihat, masih terdapat sejumlah kelemahan, seperti terlalu berlebihan dan tingginya materi bagi anak-anak, logika juga di luar jangkauan anak, dan terjadi kesalahan konsep.
Dalam sebuah buku sains untuk kelas V, misalnya, terlihat terlalu tingginya tingkat materi dan konsep. ”Dalam buku itu dibahas pentingnya pelestarian jenis makhluk hidup untuk perkembangan sains dan kehidupan manusia. Ada kalimat, Peran bioteknologi untuk mencegah kepunahan jenis hewan dan tumbuhan.. Konsep yang disajikan terlalu tinggi dan sulit dipahami,” ujar Dananjaya.
Dalam buku pelajaran yang dikaji tersebut juga miskin bahasa penuturan, tidak mengundang rasa ingin tahu, tidak mengandung masalah yang harus dipecahkan, dan tidak merangsang munculnya pertanyaan kritis.
Materi yang terlalu padat itu menyebabkan guru akan menggunakan metode pengajaran ceramah agar semua materi tersampaikan dengan cepat meski tidak menimbulkan sikap kritis aktif. Hal itu membuat anak menjadi pasif
Posted by: Helena Srimurti on: December 16, 2008
Kamus Sekitar Danau Matano hadir untuk mengantisipasi kepunahan bahasa daerah, khususnya di sekitar Kawasan Danau Matano yang merupakan kawasan pertambangan nikel PT Inco, Tbk.
“Kamus ini hadir untuk menjawab kegelisahan kami, karena masyarakat yang berada di sekitar lokasi pertambangan sudah jarang menggunakan bahasa daerah setempat,” ujar pencipta Kamus bahasa daerah yang berjudul Kamus Sekitar Danau Matano, DR Djasruddin, di Makassar, Selasa.
Dikatakannya, kamus yang memuat empat logat bahasa yakni Bahasa Soroako, Matano, Nuha dan Bure akan menjadi penuntun bagi masyarakat lokal dalam melestarikan salah satu produk budayanya. Selain itu, kamus itu juga dapat digunakan oleh pendatang yang bekerja di kawasan pertambangan nikel milik PT Inco.
Menurut Djasruddin yang juga guru besar Universitas Negeri Makassar (UNM), setelah kamus tersebut dapat diterima dan diterapkan masyarakat di Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel), maka langkah selanjutnya adalah menjadikan Bahasa Soroako atau bahasa setempat menjadi salah satu bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah.
“Hal itu agar bahasa daerah setempat tidak punah, dan generasi yang sudah hidup dengan serba teknologi, tidak melupakan karya budaya leluhurnya,” jelas pria kelahiran Luwu itu.
Penyusunan kamus itu, menurut dia, mendapat dukungan dari PT Inco melalui program pengembangan dan pelestarian budaya lokal. Kamus yang memuat bahasa daerah itu, juga menjadi bagian dari hasil produk 10 buku yang merupakan bahan ajar bagi SD hingga SMA di Soroako dan sekitarnya yang telah diluncurkan pada September 2008.
Mengenai isi kamus itu, Djasruddin mengakui, masih jauh dari kesempurnaan, karena itu pihaknya masih terus mencari kosa kata yang belum sempat dimasukkan dalam kamus saku tersebut.
Untuk membuat kamus yang dapat menjadi acuan bagi masyarakat di sekitar Danau Matano di Luwu Timur, ia menambahkan, harus menggali kosa kata yang digunakan masyarakat pada empat lokasi dengan logat dan arti yang berbeda-beda, selama kurang lebih setahun
Posted by: Helena Srimurti on: December 14, 2008
Setelah menumpahkan kegundahan hatinya perihal kebutuhan keuangan dalam keluarganya, istri Safedi lalu beranjak dan duduk di depan pintu rumah. Kedua kakinya diluruskan ke depan. Tatapannya tertekuk ke bawah. Dari atas kursi ruang tamu, beberapa saat kemudian Safedi mendengar tangisan istrinya yang terisak.
Berhentilah menangis, Aisia. Jika ada orang lewat, malu kita,” kata Safedi.
”Biar saja. Biar orang tahu,” jawab istrinya.
”Tetapi, itu tidak baik. Apa kata orang nanti. Aku tidak mau kita menjadi buah bibir pembicaraan orang. Bersabarlah Aisia,” sambung Safedi.
Kali ini istrinya mencoba menahan tangisannya. Mungkin dia mulai agak paham.
Ini entah sudah kali keberapa istri Safedi menumpahkan perasaannya tentang biaya hidup yang tak bisa dipenuhi. Pekerjaan sebagai guru honorer, dengan gaji sekali tiga bulan yang diterima Safedi, membuat dia kewalahan dalam mengatur biaya hidup sehari-hari. Safedi pun paham tentang itu, karena dalam tiga bulan itu dia hanya menerima uang sebanyak seratus delapan puluh ribu rupiah. Dengan uang sebanyak itu, tentu istrinya sangat sulit mengatur biaya hidup mereka.
Dulu, sebelum ada dana BOS yang diberikan pemerintah kepada sekolah, Safedi setiap bulan menerima gaji enam puluh ribu rupiah sebulan. Tetapi, karena dana BOS hanya bisa diambil oleh sekolah tiga bulan sekali, Safedi dan guru-guru honor lainnya juga ikut peraturan itu.
”Utang kita sudah banyak di kedai Uni Ami, Da. Itu yang membuat Aisia bingung,” demikian ucapan istrinya beberapa minggu lalu sehingga membuat hati Safedi bagai teriris. Perasaan iba kepada istrinya membuat kulit tubuhnya terasa dingin. Perasaan bersalah karena tidak bisa membahagiakan istri juga menyentak hatinya.
”Ya Uda tahu. Nanti akan kita angsur,” jawab Safedi kemudian.
”Utang kita sudah dua ratus tujuh puluh lima, Da. Bulan esok Uda hanya menerima seratus delapan puluh ribu rupiah. Kalau terus-terus begini, terpaksa Aisia akan tetap berutang ke sana-kemari. Aisia ingin Uda mencari usaha lain. Aisia tidak tahan bila Uni Ami merungut meminta uangnya terus.”
Lalu Safedi terdiam.
”Ya, Aisia, Uda akan mencoba mencari usaha lain,” katanya pelan dengan nada iba. Lalu pikirannya menerawang jauh, memikirkan pekerjaan apa yang akan dia lakukan untuk memenuhi tuntutan istrinya itu. Sedangkan dia tahu, mencari pekerjaan itu begitu susah. Mungkin teramat susah.
Perkenalkan pembaca, nama tokoh utama dalam cerita ini adalah Safedi, SPd. Dia lahir di Padang tanggal 24, tahun 1972, bulan Juni. Gelar kesarjanaan dia peroleh dari Universitas Negeri Padang, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dia menyelesaikan kuliah pada tahun 1998. Kini sudah lima tahun mengajar di salah satu sekolah negeri tingkat sekolah menengah pertama di kotanya. Dengan status guru honorer. Gaji per bulan enam puluh ribu rupiah. Itu diterima sekali tiga bulan. Jadi, totalnya berjumlah seratus delapan puluh ribu rupiah.
Safedi menikah empat tahun setelah menyelesaikan kuliah. Aisia adalah nama istrinya. Dia hanya tamat sekolah menengah atas. Usianya tiga tahun lebih muda dari Safedi. Tetapi, sampai saat ini, setelah satu tahun menikah dengan Safedi, dia belum juga memberi keturunan buat Safedi. Tetapi, Safedi maklum diri dan tidak menuntut itu dan ini. Safedi adalah tipikal laki-laki yang baik hati. Demikianlah pembaca, perkenalan tokoh utama dalam cerita ini.
Pagi ini Safedi datang ke sekolah lebih awal. Murid-murid masih sedikit yang bermunculan. Sebagian asyik bermain riang di taman. Safedi pun tidak mau diam. Sesampai di kantor dewan guru dia mengeluarkan dari dalam laci buku-buku latihan anak muridnya yang kemarin belum tuntas dia periksa. Dia membolak-balik buku itu dengan pelan. Kemarin dia sering kali mengerutkan kening setiap kali memeriksa latihan murid-muridnya itu.
”Tak ada yang baik mengarang. Ini tulisan centang-perenang. Ejaannya pun tak beraturan,” celotehnya, kali ini dalam hati, ketika memeriksa buku latihan salah satu muridnya yang bernama Riski Kurniawan. Dia ingat wajah anak itu. ”Anak pemalas. Sering cabut. Suka bergaya. Ah, mau jadi apa ini anak,” umpatnya lagi.
Dia juga tahu anak itu bukanlah anak orang kaya. Bapaknya bernama Ajo Kurik yang kerjanya setiap hari menghela beruk dari satu kampung ke kampung lain untuk memanjat buah kelapa orang. Tetapi, anaknya berlagak seperti anak orang kota. Suka bergaya. Malah pernah, anak itu kedapatan mewarnai rambutnya dengan warna pink. Mengingat itu, betapa Safedi merasa begitu susahnya membina anak-anak remaja zaman sekarang. Tidak seperti dirinya ketika remaja dulu.
Begitulah Safedi, dia merasa banyak yang tidak cocok dan tidak sesuai di dalam hati. Mulai dari sikap murid-muridnya, kebijakan kepala sekolah, atau tentang dunia pendidikan itu sendiri secara lebih luas. Karena itu terkadang dia sering dianggap radikal oleh beberapa teman ketika berdiskusi soal pendidikan.
”Tiap sebentar kurikulum diganti-ganti. Kemarin KBK, sekarang KTSP. Tetapi, penerapannya tak ada yang sesuai. Ujian nasional diadakan juga. Yang meluluskan anak murid bukan gurunya. Ini kurikulum macam apa. Bertumpang tindih,” demikian kata Safedi beberapa hari lalu.
”Ini kan demi mencari pendidikan yang ideal,” jawab guru Mahmud yang hampir sebaya dengan dia.
”Tetapi, ini malah mengacaukan sistem pendidikan. Lihat, karena ujian nasional, para guru-guru memberi kunci jawaban kepada murid-muridnya. Bagaimana ini? Dalam kurikulum KBK maupun KTSP itu kan penilaian diberikan tidak hanya pada kemampuan daya pikir anak, tetapi juga tingkah mereka. Nah, sedangkan pada ujian nasional kelulusan berdasarkan nilai yang diperoleh lewat ujian itu. Ini bagaimana bisa dijelaskan dengan akal sehat kita. Iya, kan?” kata Safedi berapi-api.
Tepat ketika Safedi menyelesaikan tugas memeriksa latihan murid-muridnya, bel sekolah tanda masuk pun berbunyi. Anak-anak yang sedari tadi sibuk bermain di halaman terlihat berhamburan menuju ke ruang kelas masing-masing. Tawa riang dan suara pekikan anak-anak sekolah itu menggema sampai ke kantor dewan guru.
Safedi pun bersiap-siap memasuki kelas. Sejenak dia memeriksa beberapa buku paket yang berada di dalam tas hitamnya yang mulai pudar warna dan retsletingnya rusak. Sudah beberapa bulan ini dia selalu berpikir kapan akan mengganti tas hitamnya itu dengan tas baru. Tetapi begitulah, sampai sat ini dia belum juga bisa melakukannya.
Dia pun sudah tidak sabar akan mengajar hari ini. Suara riang anak-anak yang dia dengar sejak tadi membuat semangatnya untuk mengajar begitu menggebu. Dan memang begitu, setiap mendengar suara anak-anak di sekolah semangat mengajarnya begitu tumbuh, melupakan kesulitan hidup yang mengimpit, juga melupakan ceracauan istrinya yang mungkin nanti siang akan kembali dia dengar.
Safedi mulai keluar dari kantor dewan guru itu. Dia lihat anak-anak kelas tiga-satu telah berbaris di depan kelas. Lalu satu-satu dari mereka dengan teratur memasuki kelas. Sejenak dia tersenyum. Langkah kakinya terasa ringan menuju ruang kelas itu.
”Assalamualaikum,” sapa Safedi sambil tersenyum.
”Wa’alaikum salam,” jawab murid-murid serempak.
Dengan langkah pasti Safedi memasuki kelas itu dan duduk di bangku guru. Dia membuka tasnya. Mengeluarkan buku paket pelajaran Bahasa Indonesia. Safedi akan memerintahkan murid-muridnya untuk memerhatikan kembali pelajaran yang kemarin dia berikan, tetapi anak-anak di baris paling belakang terdengar berisik di telinganya.
”Ya, aku juga memerhatikannya, sudah tiga hari celana bapak itu masih itu-itu juga,” kata Anton Anugrah.
”Ya, ya,” jawab teman sebangkunya. ”Bajunya juga. Kemeja kotak-kotak kuning itu kan sering juga dia pakai.”
”Bosan juga kita, ya, melihat orang berpakaian yang sering kita lihat.”
”Ya iyalah.”
”Mata ini kan selalu ingin melihat yang baru.”
”Hus, jangan keras-keras. Itu Pak Safedi melihat ke arah kita,” kali ini Tina Agus yang duduk di depan mereka menyanggah pembicaraan kedua murid yang terkenal usil di kelas itu.
Sebagian mata anak-anak lain memandang ke arah Anton Anugrah dan temannya yang bernama Jamaldi itu.
Safedi terdiam sejenak. Kali ini Safedi benar-benar merasa malu. Dia salah tingkah. Semangatnya untuk mengajar hari ini tiba-tiba saja buyar. Tetapi, dia tidak mau marah kepada kedua anak muridnya itu. Dia hanya merasa iba hati, pada nasib, juga pada dunia pendidikan yang tidak berpihak kepada dirinya.
Hari itu, Safedi mengajar tidak sepenuh hati. Sindiran yang dilontarkan kedua muridnya itu benar-benar mengena di hatinya. Sepanjang waktu dia hanya ingat kepada istrinya. Juga pada dirinya sendiri yang selama ini tidak bisa membeli pakaian baru untuk mengajar ke sekolah. Ah, hari itu Safedi benar-benar merasa sangat lelah. Melebihi lelahnya pada hari-hari biasa.
Safedi pun pulang dengan gontai. Seperti biasa, dia pulang dengan berjalan kaki. Menyusuri jalan yang berkerikil. Tak ada angkutan. Jalan itu hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Dan Safedi tidak memilikinya. Baru berjalan beberapa meter, seorang laki-laki separuh baya menegur Safedi.
”Pak guru,” sapa dia.
Dan Safedi berhenti.
”Ada apa?” jawab Safedi mengerutkan kening karena dia tidak mengenal laki-laki itu.
”Saya ingin bertanya. Anak saya kan sekolah di tempat Pak Guru mengajar. Katanya saya dengar sekarang pendidikan itu gratis, tetapi kenapa ada uang juga. Tiap semester katanya kami membayar uang tiga ratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Bagaimana itu, Pak Guru?” tanya laki-laki itu.
Safedi menyurutkan langkah kaki agak ke belakang. Dia sedang berpikir akan memberikan jawaban apa, sebab itu yang tahu hanya kepala sekolah. Sedangkan dia hanya guru biasa.
”Saya tidak tahu itu, Pak,” jawabnya asal saja.
”Tidak tahu?”
”Ya.”
”Masak guru tidak tahu. Guru macam apa kamu?”
”Benar, Pak. Saya tidak tahu. Permisi, Pak, ya.”
Safedi pun berlalu meninggalkan laki-laki itu. Sedangkan laki-laki itu seperti aneh melihat Safedi. Hari ini Safedi semakin bertambah pusing. Kepalanya mulai terasa sakit. Tetapi, dari kejauhan Safedi masih bisa mendengar ketika laki-laki itu berkomentar agak kasar.
”Guru kalera. Mungkin dia juga ikut makan uang dari murid-muridnya.”
Sungguh, mendengar kalimat itu, membuat Safedi benar-benar merasa mau pingsan saja.
Padang 2008
Keterangan:
1. KBK = kurikulum berbasis kompetensi
2. KTSP = kurikulum tingkat satuan pendidikan
3. kalera = kata makian
Posted by: Helena Srimurti on: December 14, 2008
”A tree is a tree. Yes, of course. But a tree as expressed by Minou Drouet is no longer quite a tree, it is a tree which is decorated, adapted to a certain type consumption, laden with literary self-indulgence, revolt, images, in short with a type of social usage which is added tu pure matter” (Barthes, 1983: 109).
Jika mitos merupakan tipe wicara (”a type of speech”) seperti dikatakan Barthes, sastra tentu merupakan mitos. Soalnya, sastra adalah model wicara juga. Sebagaimana halnya mitos, yang utama dalam sastra adalah bagaimana sesuatu diujarkan, bukan apa yang diujarkan.
Metaforarisasi” adalah sebuah mekanisme pemitosan: pembubuhan sejumlah fungsi, makna, dan pesan pada materi murni. Materi murni seperti pohon, ranting, debu, dan lain-lain dicuci dan dialihkan tempat serta fungsinya.
Dengan mekanisme tersebut, sastra sebagai mitos identik dengan idealisasi atas materi murni. Di situ penyair menempati posisi pemancar (sender) yang mengirim hal ideal kepada pembaca (receiver). Penyair menginterpelasi obyek-obyek ke dalam ”lembaga kreatif” pada dirinya, mengeksiskan obyek-obyek tersebut sebelum kemudian menjadikannya agen yang mengirim sejumlah pesan ideal. Pembaca pun teryakinkan.
Dalam mitos, keyakinan atas yang ideal itu umumnya melampaui batas nalar. Hal terpenting dalam mitos memang bukan benar atau salah, logis atau tidak, melainkan yakin atau tidak. Mitos adalah seperangkat linguistik yang memasyarakat atau tersosialisasikan. Dalam sosialisasi terdapat proses ”menetapkan”. Penetapan ini terjadi sejalan dengan tertanamnya keyakinan (Berg, Penulisan Sejarah Jawa, 1974, hal 7).
Pada level itu, metaforarisasi menjadi identik dengan cara teks sastra bekerja memancarkan ideologi. Karena proses inilah Louis Althusser menyebut sastra sebagai salah satu elemen dari Ideological State Aparatuss (ISA). Sastra memancarkan ideologi dengan caranya yang paling halus (Althusser, Tentang Ideologi: Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies, 2004 hal 20).
Idiom mengejutkan
Penempatan teks sastra dalam perspektif di atas saya pakai untuk mendekati sajak-sajak Nirwan Dewanto (ND) yang terkumpul dalam himpunan Jantung Lebah Ratu.
Membaca sajak-sajak ND dalam himpunan ini, saya menemukan beberapa idiom yang berasa menyentak, dan karena itu, asing. Mungkin ini pula yang menyebabkan Melani Budianta, dalam endorsement buku ini, menulis ”membaca puisi Nirwan membuat kita bertanya: Siapa yang bicara? Dari mana datang suaranya? Tapi sajak-sajak Nirwan bukan teka-teki, melainkan sehamparan estetika”.
Apa yang dimaksud sehamparan estetika oleh Budianta, bagi saya adalah sebaran idiom yang mengejutkan. Perhatikan, misalnya, sajak ”Perenang Buta” (hal 3). Sesuai judulnya, sajak ini bertutur tentang perenang buta dalam samudra (tentu kita tidak harus memaknainya secara harfiah). Sebab itu, perenang buta diriwayatkan dalam himpunan kata yang sekomunitas: arus, tanjung, ubur-ubur, ganggang, teluk, dan mercu suar. Ekologi kata ini juga berelasi dengan kata dari komunitas lain yang logis, baik secara sintaktik maupun semantik. Namun, di antara relasi itu ada yang terasa muncul dengan tiba-tiba. Periksa larik 6 dan 7 sebagai berikut, ”Tak beda ubur-ubur atau dara/mendekat ke punggungnya”.
Kata dara pada larik itu datang sekonyong-konyong menghancurkan struktur. Dengannya logika metafor terjerembab dan terputus. Tiba-tiba kita dibawa ke dalam imaji yang asing. Fokus sajak yang telah dibangun sejak kata pertama menjadi terpecah sebab putusnya rantai penandaan (skizofrenik).
Selanjutnya, pada sajak ”Kunang-Kunang” (hal 2), ditemukan idiom lain yang juga menarik ditelisik. Perhatikan bait berikut, ”Baraku biru, begitu biru, sehingga sebatang sungai meninggikan/sayapnya ke arahku dan berkata, terbanglah seperti aku sebab kau adalah kembaranku, tapi segera aku tahu ia tak bermata, maka ia lupa siapa bundanya”.
Pertanyaan atas larik ini adalah: bagaimana kaitan antara ”baraku biru” dan sebatang sungai sehingga ia harus meninggikan sayapnya? Ada rantai logika sintaktik yang putus, sintak yang lagi-lagi skizofrenik.
Jika relasi ungkapan itu skizofrenik, idiom sebatang sungai pada bait itu menunjukkan kasus lain. Hemat saya, kata sebatang yang ditempelkan pada sungai telah mereduksi realitas. Imaji kita tentang sungai tiba-tiba menyempit dengan kata sebatang. Sebatang, kita tahu, adalah kata yang biasa digunakan untuk pohon/kayu (sebatang pohon/kayu). Sebatang juga bisa disebut sebagai kata yang mengklasifikasi, memisahkan sesuatu dari keberagaman (serumpun, misalnya).
Walhasil, idiom sebatang sungai bisa dibilang sebagai idiom yang menyederhanakan, formalistik. Bukankah sungai merupakan arsitektur alam yang renik dan kompleks, mengalur dari gunung sampai ke laut. Dibandingkan dengan idiom skizofrenik di atas, sebatang sungai menandai hal yang bisa dibilang sebaliknya. Jika yang pertama merupakan ujaran individu yang spesifik (parole), yang kedua adalah ujaran khalayak yang telah menjadi sistem (langue).
Berikutnya adalah idiom baraku biru. Bagaimanakah bara sampai menjadi biru? Apakah bara biru yang dimaksud identik dengan cahaya yang dipancarkan kunang-kunang pada malam hari? Bisakah kita menjelaskannya secara biologis bahwa biru cahaya kunang-kunang adalah energi yang membuatnya bisa terbang? Jika ya, mengapa harus serumit itu? Bukankah dalam realitas bara itu merah api, arang yang masih menyala?
Sajak tersebut memang menggunakan kunang-kunang sebagai subyek lirik. Diri (kunang-kunang) dan realitas dilihat dari sudut pandang kunang-kunang. Namun, tentu kita tidak bisa menafikan kehadiran ND. Tampak di situ bahwa melalui kunang-kunang, ND sedang menggedor ”logos”. Ia hendak memindahkan mitos lama bahasa dengan menatah mitos baru. Pada mulanya semua kata memang metaforik: pengalihan dari realitas ke mitos.
Identitas puitik
Sejauh yang teramati, putusnya rantai penandaan macam itu juga terdapat dalam beberapa sajak lain. Fakta tekstual ini mungkin disebabkan dua hal. Pertama, karena saya adalah pembaca yang lebih akrab dengan buah duku, daripada buah ceri seperti ND yang dalam larik pertama sajak ”Penyair” menulis ”buah ceri di kantung celana”.
Kedua, mungkin saja hasrat ND yang menggelegak merambah berbagai kemungkinan bahasa telah membuat dia lupa pada karakteristik spesifik bahasa di mana dia menetap. Ia meramu dan mengadoni berbagai potensi perpuisian sejagat seperti seorang posmodernis yang merayakan keberagaman dan ”eklitisme”. Akan tetapi, di balik itu agaknya ada nafsu untuk menciptakan identitas puitik (aestethic idiolect), membuat kode-kode yang belum terpahami, yang oleh Umberto Eco disebut sebagai penciptaan kode radikal (a radical code-making); bak seorang modernis yang merindukan kebaruan. Akibatnya, berbagai paradoks terjadi sehingga hamparan estetika itu berdiam dalam misteri.
Kapankah pembaca seperti saya bisa memahami hamparan estetika tersebut? Barangkali kelak, setelah ujaran ND itu menjadi penanda yang menancap di sebuah anak tangga. Sebagaimana telah disinggung, melalui Jantung Lebah Ratu ND tampak tengah mencipta mitos lain pada bahasa. Karena itu, dibutuhkan pengujaran yang terus-menerus sehingga menjadi seperangkat linguistik yang socialized. Dengannya kemudian kita tidak perlu lagi bertanya, mengapa bara itu biru, tak lagi merah menyala sebagai api!
Acep Iwan Saidi Dosen FSRD ITB, Anggota Forum Studi Kebudayaan ITB
Posted by: Helena Srimurti on: December 13, 2008
Dalam menghadapi kekuasaan, sastra hadir selain sebagai sebuah eksperimen moral, juga sebagai kenyataan sosial. Di dalamnya ia menghadapi ideologi penguasa, dalam proyeknya menanamkan pengaruh atau menyubordinasi ekspresi literer itu.
Mulai dari sastra-sastra klasik seperti epos Ramayana karya Walmiki atau Mahabarata karya Wyasa, teks-teks sastra tak luput pada masalah sentral kekuasaan dan hegemoni negara. Mahabarata, misalnya, mulai dari episode pertama, adi parwa, hingga parwa ke-18, swargarohana parwa, kekuasaan menjadi tema dasar yang menggerakkan konflik tokoh-tokohnya. Dari persoalan kekuasaan itu muncul hero-hero yang di mata pembaca menjadi suri teladan, bahkan tidak jarang dicoba diidentifikasi dalam realitas hidup sebenarnya. Sastra seakan menjadi produsen menghadirkan hero dan heroisme.
Di Perancis pada abad pertengahan dikenal satu genre sastra yang disebut sebagai chanson de geste, bentuk puisi naratif bertemakan kepahlawanan yang dipanggungkan dengan diiringi alat musik petik. Puisi naratif kepahlawanan yang paling populer di masyarakat Eropa waktu itu adalah Chanson de Roland yang terdiri atas 4.002 baris sajak. Puisi ini mengisahkan kepahlawanan tokoh kesatria Roland yang mengabdi pada Raja Charlegmane yang akhirnya gugur dalam peperangan melawan musuhnya.
Cerita semacam Chanson de Roland ini dapat ditemukan di bagian lain dunia, seperti satu drama klasik Jepang, Nakamitsu (anonim), atau kaba Cinduo Mato, sastra klasik Minangkabau.
Paradoks sastra
Persoalan kekuasaan ini berisiko membawa sastrawan pada sebuah kenyataan yang paradoksal. Di satu pihak secara sadar atau tidak, ”terpaksa” melegitimasi kekuasaan dan pada pihak yang lain melakukan counter atau perlawanan terhadap kekuasaan.
Paradoks semacam ini dalam sastra klasik sangat jelas terlihat karena dalam kehidupan riil banyak pujangga yang bekerja pada penguasa. Satu keadaan yang menimbulkan dan ambiguitas atau kemenduaan sikap dalam proses kreatifnya; antara idealisme dan pengabdian.
Kemenduaan ini di Eropa antara lain dialami oleh Clement Marot (1496-1544), seorang pujangga kesayangan Raja Francois I dari Istana Perancis pada awal Renaissance. Marot menulis sebuah teks karya sastra Perancis yang pertama kali secara transparan tapi jenaka, mengkritik praktik-praktik sosial-religius pada zamannya sehingga membuatnya dikejar-kejar kaum gereja dan bangsawan. Namun, secara diam-diam ia ternyata dilindungi Raja.
Keterbelahan seperti ini juga dialami oleh pujangga besar Jawa, Ronggowarsita. Ronggowarsita yang bekerja sebagai pujangga Keraton Solo menciptakan teks sastra profan seperti Serat Wirid Hidayat Jati yang menjadi ekspresi kekecewaannya terhadap sistem pemerintahan keraton. Namun, ia juga melahirkan serat Kalatida yang memotret sekaligus mengkritisi kecenderungan penguasa melakukan penindasan sehingga rakyat berada dalam penderitaan. Masa derita yang disebutnya sebagai kalatida atau kalabendu.
Dalam sastra modern
Pada sastra Indonesia modern, kemenduaan yang melahirkan paradoks itu tetap saja terjadi meski telah bermetamorfosa dalam bentuk yang berbeda. Roman-roman Balai Pustaka (BP), misalnya, merepresentasi ambiguitas para pengarang pribumi dalam bersikap menghadapi pemerintahan kolonial. Pengarang-pengarang BP, selain sebagai individu yang bebas, juga ”terpaksa” mengikatkan diri terhadap ketentuan yang digariskan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda melalui BP.
Sikap pengarang itu tampak pada—antara lain—latar belakang atau posisi tokoh di berbagai karya sastra terbitan BP. Posisi yang secara moral sebenarnya justru membingungkan pembaca lokal, khususnya dalam menghadapi kolonialisme. Tokoh Samsul Bahri, misalnya, muncul sebagai hero meski ia prajurit Kompeni. Namun, di bagian lain, tokoh Datuk Maringgih yang melawan kekuasaan Hindia Belanda justru dikesankan menjadi tokoh antagonis.
Pada masa Jepang, paradoks itu terlihat ketika pemerintah militer Jepang melalui Sendebu (Departemen Propaganda) mendirikan komisi kebudayaan yang dikenal dengan nama Keimin Bunka Shidoso. Melalui lembaga ini, sastrawan-sastrawan muda seperti Chairul Saleh, Rivai Apin, dan Idrus bekerja untuk menulis, menyeleksi, dan menyebarluaskan bahan bacaan tertulis kepada rakyat, yang tentu saja steril dari kritik pada pemerintahan Jepang.
Masa Orde Baru
Pada awal rezim Orde Baru barulah sastra Indonesia berhasil membebaskan diri dari warisan kemenduaan ini, ketika kekuasaan tidak lagi memainkan peran sebagai patron atau pelindung sastra. Maka, pengarang dan karyanya pun mulai berani secara langsung beradu muka melawan kekuasaan. Kekuasaan Soeharto yang represif justru membawa teks sastra pada posisinya yang kohesif melakukan oposisi.
Teks-teks sastra bernada protes bermunculan yang kemudian berakibat pelarangan terhadap teks sastra atau pementasan sastra dan bahkan berimbas langsung pada penangkapan dan penahanan pengarangnya. Hero dan kepahlawanan tidak saja muncul dalam teks, tetapi juga muncul pada diri sang kreator yang berada pada titik ketegangan realitas.
Dalam relasinya dengan kekuasaan yang hegemonik itulah, sastra akhirnya tampil lewat sebuah pernyataan keras dengan menghadirkan satu realitas baru. Penyikapan yang tegas ini memiliki bentuk atau karakteristik yang berbeda, bergantung pada latar atau visi pengarangnya.
Namun, dengan menyajikan realitas—atau dalam makna lain narasi—alternatif ini, publik pembaca pun kemudian mengalami semacam perluasan horizon, dalam cara ia mengapresiasi atau menyikapi hidup sehari-hari. Di sini mungkin terdapat ironi kecil, Soeharto justru melahirkan sebuah ruang dan masa, di mana ketegasan sikap para pengarang dan sastra tercipta. Bahkan di bagian lain, membuka mata hati dan pikiran publik pada alternatif atau narasi lain di luar apa yang dipenetrasi oleh kekuasaan.
Entah, apakah sastra harus ”berterima kasih” pada otoriterianisme Orde Baru. Namun, setidaknya, liberalisasi yang terjadi seusai reformasi bisa jadi hanyalah lanjutan dari kekayaan teks dan narasi alternatif, khususnya dalam hubungan dengan kekuasaan Orde Baru. Zaman berikutlah yang akan menilai, seberapa arif dan kreatifnya sastra menyikapi situasi baru itu.
Tjahjono Widijanto Penyair dan esais, menetap di Ngawi, Jawa Timur